Menjadi Orang Beriman yang Sungguh-Sungguh Beriman

Paulus Yanuario Musrilan

IMAN  merupakan suatu kebajikan teologis yang memungkinkan manusia memasuki misteri-misteri ilahi.

Iman menghantar orang ke dalam rahasia-rahasia ilahi yang tak terselami oleh daya rasional manusia.

Iman memiliki daya cipta dan membuat segala sesuatu menjadi mungkin.

Iman menjadi kebutuhan bahkan tuntutan mutlak untuk memahami apa saja yang berada di luar jangkauan akal budi manusia, bertumbuh di tengah aneka peristiwa nyata dan berkembang dalam proses menuju klimaks penuh kekaguman.

Iman memungkinkan manusia untuk menerima keterbatasan dan kerapuhan dirinya, dan sekaligus mengakui kemahakuasaan Tuhan atas dirinya dan alam ciptaan. Segala sesuatu yang mustahil di mata manusia akan menjadi mungkin hanya karena iman.

            Melalui kisah Yesus berjalan di atas air, penginjil menyatakan bahwa Yesus bisa melakukan apa yang hanya Allah sendiri bisa lakukan. Di saat murid-murid dilanda kecemasan dan ketakutan hebat karena gelombang dan angin sakal mengombang-ambingkan perahu, mereka melihat suatu yang luar biasa, yaitu Yesus yang berjalan di atas air.

Kedatangan Yesus memberikan harapan dan meneguhkan hati mereka. Akan tetapi, Petrus yang masih bimbang dan ragu ditegur oleh Yesus dan menolonya untuk menguatkan kepercayaannya bahwa itu sungguh-sungguh Tuhan. Puncak dari peristiwa itu menunjukkan betapa kagumnya murid-murid akan kemahakuasaan Allah yang terwujud dalam diri Yesus. “Mereka menyembah Dia katanya: Sesungguhnya Engkau Anak Allah!” (Mat 14: 33).

            Dari kisah ini ada beberapa hal penting yang dapat kita petik sebagai pegangan kita untuk tetap menjadi orang yang beriman. Pertama, beriman bukan hanya “percaya” tetapi harus “yakin”. Artinya, dalam beriman kepada Yesus, kita bukan hanya mencapai tahap percaya tetapi harus mencapai tahap yakin bahwa Yesus adalah Anak Allah. Sama seperti Petrus, ia percaya bahwa yang datang dan berjalan di atas air adalah Yesus.

Akan tetapi ia masih bimbang dan ragu karena belum yakin sepenuhnya (bdk. Mat 14: 28-31). Kita sebagai orang beriman hendaknya senantiasa menjadi orang yang yakin dengan iman kita. Sebab, dalam ziarah kehidupan, kita dihadapkan dengan berbagai cobaan dan tantangan yang tentunya akan mengombang-ambingkan iman kita.

Maka, kita dituntut untuk bukan hanya percaya tetapi yakin bahwa cobaan dan tantangan dapat dilewati dengan pertolongan iman yang kuat akan Tuhan. Keyakinan itu akan menghantar kita kepada pemahaman akan hal-hal luar biasa yang terjadi di sekitar kita.

            Kedua, iman bisa muncul secara spontan dan juga bisa hilang secara spontan. Ketika kita berhadapan dengan berbagai keadaan luar biasa di mana mukjizat-mukjizat senantiasa terjadi atas diri kita, maka iman itu akan muncul secara spontan. Sama seperti para murid ketika melihat Yesus yang berjalan di atas air (bdk. Mat 14: 25).

Akan tetapi, bila di tengah jalan kita berhadapan dengan berbagai cobaan dan kita tak dapat menghadapinya, maka iman itu bisa hilang. Sama seperti Petrus ketika berjalan di atas air untuk mendapati Yesus (bdk. Mat 14: 29-30). Dalam hal ini, jika kita beriman, maka kita juga harus dapat mempertahankan iman kita. Jika kita beriman, maka kita harus beriman dengan penuh. Beriman bukan hanya karena melihat mukjizat-mukjizat, tetapi lebih dari itu kita beriman karena kita sungguh-sungguh mengenal siapa yang kita imani.

  Akhirnya, kita diajak untuk semakin beriman kepada Yesus sebagaimana kita mengenal Dia. Kita beriman dengan penuh keyakinan akan Dia yang diutus oleh Allah untuk menjadi penebus dosa-dosa kita umat-Nya yang dikasihinya. Amin.

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten + 19 =