Mengenal Carlo Acutis Santo Pengguna Internet

“To always be close to JESUS, that’s my life plan.”

Kalimat tersebut muncul di halaman pertama laman resmi Carlo Acutis, seorang remaja yang mendapat beatifikasi pada hari Sabtu di tanggal cantik 10-10-2020 di gereja Basilika Santo Fransiskus Asisi, Italia.

Misa ekaristi beatifikasi dipimpin oleh Kardinal Agustino Vallini.

Hanya butuh 16 tahun setelah meninggal, Carlo Acutis didekralasikan menjadi Beato, satu tahap lagi untuk menjadi Santo.

Carlo Acutis pun tercatat sebagai Beato pertama dari kalangan milenial dan menjadi Santo Pelindung Internet.

Dalam homilinya, Kardinal Vallini memuji Acutis sebagai kaum milenial yang menggunakan teknologi untuk mewartakan Injil. Dengan pengetahuan teknologi yang dia kuasai,

Acutis ingin menjangkau semua kalangan untuk mengenal dan mengikuti Yesus.

“Bagi Carlo, Yesus adalah kekuatan hidupnya sekaligus tujuan dari semua yang dia lakukan,” kata Kardinal Vallini.

Siapakan Carlo Acutis? Seperti dilansir laman resmi miliknya carloacutis.org,  Carlo Acustis lahir pada 3 Mei 1991 di London Inggris, ketika orangtuanya Andrea Acutis dan Antonia Salzano sedang melanjutkan studi. Dia menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di Kota Milan, dan meninggal pada usia 15 tahun karena penyakit leukimia atau kanker darah.

Sejak menerima komuni pertama pada usia 7 tahun, dia tidak pernah absen mengikuti misa harian. Acutis selalu berusaha berdoa di depan tabernakel, sebelum atau sesudah misa. Dia juga sangat berdevosi kepada Bunda Maria dan menderaskan doa rosario setiap hari.

Meski demikian, Carlo Acutis tak berbeda dengan remaja seusianya. Dia adalah penggemar film animasi  Super Mario dan Pokemon. Dia juga bermain bola dengan teman sebaya dan suka melakukan travelling, mengunjungi berbagai tempat ziarah. Salah satu kota yang paling sering dikunjungi adalah Azizi. Dia jatuh cinta dengan kota tersebut. Itulah sebabnya mengapa ia ingin dimakamkan di Azizi. Ketika tidak berada di depan komputernya, dia ikut membantu di dapur gereja dan membagikan makanan bagi kaum miskin.

Carlo Acutis sangat berminat mendalami bidang komputer, terutama programming. Dengan kemampuannya itu, di usia yang sangat masih muda, dia mengenalkan Injil kepada banyak orang dengan bahasa gaul melalui website. Dia bahkan membuat katalog mukjizat Ekaristi dan penampakan Bunda Maria setelah melakukan penelitian terhadap 136 mukjizat  dari seluruh penjuru dunia dan  didokumentasikan di sebuah museum virtual. Salah satunya adalah Mukjizat Lanciano di Italia pada tahun 750, ketika hosti dan anggur berubah secara nyata menjadi daging dan darah  di Gereja St Fransiskus.

“Pada musim panas setelah berulang tahun ke-14, Acutis membuat website dan mengunggah katalog keajaiban Ekaristi dan membaginya kepada banyak orang. Dia ingin orang mengenal Sakramen Ekaristi dan dia menggunakan internet sebagai sarana,” kata Fr Nicola Gori, imam yang bertanggung jawab atas promosi Acutis menjadi Beato.

Kemampuannya dalam mengoprek komputer diyakini oleh sebagian orang juga merupakan sebuah mukjizat. Pasalnya dia usianya yang masih muda kemampuan yang dimilikinya setara dengan sarjana komputer. Dia tertarik pada bidang programming, editing film, membangun website, serta editing dan layout komik.

Dia mengawali proyek mendokumentasikan mukjizat Ekaristi dan penampakan Bunda Maria saat masih berusia 11 tahun. Saat itu dia menulis “The more Eucharist we receive, the more we will become like Jesus, so that on this earth we will have a foretaste of Heaven.” Dia kemudian meminta izin kepada orangtuanya untuk pergi ke beberapa tempat terjadinya mukjizat Ekaristi dan penampakan Bunda Maria. Dalam kurun waktu dua setengah tahun proyeknya selesai.

“Gereja sungguh bersuka cita karena firman Tuhan telah tergenapi pada diri Carlo Acustis. ‘Saya telah memilih kamu untuk pergi dan berbuah banyak’. Dan Carlo pergi dengan menghasilan buah kekudusan, dan menunjukkan bahwa semua itu bisa dijangkau oleh semua orang, bukan hanya untuk beberapa orang saja,” kata Kardinal Vallini.

 

Dalam  wawancara dengan National Catholic Register, sang ibu Antonia Salzano mengatakan sejak kecil Carlo Acutis memang punya kedekatan sangat istimewa dengan Yesus dan Bunda Maria. Carlo Acutis kecil selalu menyempatkan diri mendatangi tabernakel di paroki setempat hanya untuk sekedar mengatakan “hello” kepada Yesus. Antonia meyakni anaknya punya pengalaman mistis yang membuatnya mempunyai devosi yang kuat terhadap Ekaristi Suci.

“Saya percaya Acutis telah menerima rahmat khusus. Dia tidak pernah berbicara banyak tentang hal itu, tapi dia pernah mengatakan jiwanya merasa  ditinggikan ketika berada di depan Ekaristis Kudus, dan merasa dalam dekapan Yesus,” kata Antonia yang semula adalah seorang sekuler.

“Saya percaya dia memiliki visi yang sama dengan Yesus dan Bunda Maria, namun dia tidak pernah memikirkan hal itu karena dia adalah remaja yang sederhana. Suatu hari dia mengatakan, kakeknya atau ayah saya yang sudah meninggal, mendatanginya dalam mimpi. Sang kakek minta didoakan karena sedang berada dalam api penyucian. Sejak saat itu Acutis selalu berdoa untuk orang-orang yang berada dalam penyucian. Dia berpesan agar kami tidak  melupakan orang-orang yang berada di api penyucian,” tuturnya.

Antonia juga mengungkapkan, Carlo Acutis menyatukan rasa sakitnya dengan penderitaan Yesus dan mempersembahkannya untuk Gereja, Yesus, dan Paus.  

Acutis mendapat beatifikasi setelah melakukan sebuah mukzizat setelah menjadi “perantara dari surga” dalam penyembuhan seorang anak dari Brasil bernama  Mattheus  yang mengalami kelainan pankreas yang sangat langka pada tahun 2013. Dewan Medis Kongregasi Penggelaran Kudus memberi pendapat positif tentang keajaiban tersebut pada November 2019, dan Paus Fransiskus menyetujui mukjizat itu di bulan Februari.

Beberapa kutipan yang paling terkenal di antaranya adalah  ‘Everyone is born as an original, but many people end up dying as photocopies’ dan The Sacrament of the Eucharist: My Highway to Heaven.” Sudahkah kita menjadikan Sakramen Ekaristi sebagai jalan tol menuju Surga? erjebe/banyak sumber

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 − 6 =