Membangun Indonesia optimis Tanpa Hoax dan Kebencian

KOTA DEPOK – Di bilangan Grogol, Limo, Kota Depok, Kamis, 31 Januari 2019 pengurus Gusdurian Depok dan Gerakan Indonesia Optimis, menyelenggarakan peringatan wafat atau Haul Presiden Indonesia ke-9 Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur.

Hadir dalam kesempatan itu adalah perwakilan organisasi keagamaan, kepemudaan, mahasiswa, komunitas dan lain-lain dari semua lintas iman diantaranya IKMD, IPNU Kota Depok, IPPNU Kota Depok, PMII, STA, ISKA Kota Depok, GAMKI Kota Depok, JAI Kota Depok, S.O.D, PMMD, PIKI Kota Depok, Pemuda Katolik, Wanita Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Tidak hanya itu, RP. Alforinus Gregorius Pontus, OFM yang merupakan Pastor Paroki Santo Paulus Depok sekaligus Perwakilan Katolik di Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Depok turut hadir dalam Haul Gus Dur yang mengangkat tema “Yang Lebih Penting dari Politik Adalah Kemanusiaan”.

Koordinator Gusdurian Depok, Mansyur Al-Farisy dalam kesempatan itu mengucapkan terima kasih atas kehadiran teman-teman lintas iman yang ada di Kota Depok dalam mengenang sosok almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai pejuang kemanusiaan yang menjunjung tinggi keberagaman. Orang yang penuh dengan optimisme akan selalu senyum dan tenang dalam menghadapi masalah namun tidak ditempuh dengan sikap emosional.

“Gus Dur selalu memberikan contoh yang baik dalam hal bertoleransi. Dalam konteks Indonesia, kita jangan terus-terus mencari perbedaannya tetapi marilah kita cari persamaannya yaitu satu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu di tahun politik seperti saat ini untuk terjerumus dalam pusaran hoax dan kebencian yang rentan terjadinya konflik melainkan mari kita bangun Indonesia optimis tanpa hoax dan kebencian seperti yang telah diwariskan oleh Gus Dur dengan optimisme dan tidak dengan emosional”, tegas Mansyur.

Anton Wahyu, Perwakilan dari Gereja Katolik dalam testimoninya sangat mengapresiasi diselenggarakannya Haul Gusdur yang dihadiri oleh banyak perwakilan organisasi dan komunitas lintas iman termasuk perwakilan dari organisasi-organisasi Katolik.

“Mewakili Gereja Katolik dan organisasi seperti ISKA, Pemuda Katolik, WKRI, Forum Masyarakat Katolik Indonesia memberikan apresiasi kepada Gusdurian Depok yang telah sukses menyelenggarakan Haul Gusdur yang dihadiri oleh semua unsur organisasi dan komunitas lintas iman. Saya sangat setuju dalam membangun Indonesia kita harus optimis tanpa hoax dan kebencian. Salam persaudaraan, ujar Politisi PSI Kota Depok ini.

Haul Gus Dur yang didominasi oleh Milenial atau dikenal sebagai Generasi Y lebih lanjut harap Anton dalam Haul Dur kedepannya agar panitia bisa menghadirkan para pencinta dan penggemar Gus Dur agar lebih lengkap apabila hadir juga dari kalangan masyarakat yang lebih senior, harapnya.

Indonesia Optimis

Haul Gus Dur, selain Doa Bersama, Penampilan Akustik Musik “Bernyanyi Tanpa Benci” bersama Kang Digo. Hal yang menarik adalah diskusi dan bedah buku Indonesia Optimis.

Dalam bedah buku “Indonesia Optimis, Indonesia Kerja, Indonesia Maju, yang ditulis oleh Ngasiman Djoyonegoro bahwa Indonesia negara besar. Total wilayahnya 5.193.250 km2. Dari Sabang sampai Merauke, luas wilayah Indonesia seumpama luas Eropa mencapai 81.000 km2, memiliki 17.000 pulau, 263 juta penduduk, 300 etnis, 700 bahasa dan berbagai agama. Kekayaan alamnya melimpah. Anak bangsa kian hari menorehkan prestasinya, mulai dari ilmu pengetahuan dan teknologi level internasional bahkan sampai dibidang olah raga.

Dengan kekayaan, keragaman dan segudang prestasi anak bangsa tersebut, masyarakat Indonesia harus optimis melihat masa depan. Apalagi di era pemerintahan Jokowi-JK berbagai capaian pembangunan merata. Pembangunan tidak lagi Jawa Sentris namun Indonesia Sentris. Pembangunan infrastruktur maju pesat. Sektor riil bergerak karena “social overhead capital” atau modal dasar aktifitas sosial telah tersedia. Koneksifitas terbangun. Melihat potensi ini rasanya peluang Indonesia untuk menyamai negara maju bukan hal yang mustahil. Negara yang mampu bersaing ditingkat global adalah adanya semangat optimisme.
______
(Darius Leka, Koordinator Kerasulan Awam Paroki Santo Paulus Depok)

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 − seven =