Mari Lebih Peduli

Sdr. Roberto F. A. Habur OFM

Melalui peristiwa penggandaan roti, Tuhan Yesus ingin mengajarkan kepada para pengikut-Nya tentang sikap kepekaan dan kepedulian terhadap sesama.

“Kamu harus memberi mereka makan”, ini merupakan ajakan Yesus bagi pengikut-Nya untuk membangun sikap peduli terhadap sesama.

Peduli pada mereka yang berkekurangan, miskin, terbuang, terlupakan, dan yang menderita.

Semua pengikut Yesus tanpa terkecuali diajak untuk meneladani Yesus yang memiliki kepekaan dan bisa menjadi berkat bagi orang lain.

Siapa saja bisa menjadi berkat bagi orang lain. Kekurangan tidak boleh menjadi penghalang atau alasan untuk tidak peduli dan tidak mau berbagi dengan sesama.

Tentu seperti para murid, semua orang juga memiliki lima roti dan dua ikan di dalam diri masing-masing. Lima roti dan dua ikan itulah yang menjadi modal untuk dibagikan kepada sesama.

Yesus meminta untuk membawa kepada-Nya lima roti dan dua ikan, sehingga dapat dipakai-Nya untuk memberkati orang lain. Tampak jelas bahwa Yesus melibatkan manusia untuk ikut ambil bagian dalam mukjizat pengandaan roti. Menyumbangkan potensi yang dimiliki agar bisa dipakai Yesus merupakan kerelaan untuk membantu sesama sesuai dengan kesanggupan masing-masing.

Dengan demikian kita pun akan seperti Paulus yang merasakan betapa kuatnya cinta Kristus, karena kita mampu untuk menyerahkan diri pada Yesus. Paulus telah terpesona oleh cinta Kristus.

Sehingga ia mampu menyerahkan diri dan membiarkan dirinya dikuasai, dijiwai, dan digerakkan dalam kesatuan dengan Kristus.

Namun, terkadang masih ada orang yang mempunyai kecendrungan untuk menggengam sendiri lima roti dan dua ikan dan tidak rela menyerahkannya kepada Yesus. Ini menunjukkan keenganan untuk memberi diri, sehingga sulit untuk peka dan peduli dengan sesama.

Ketulusan hati perlu menjadi landasan untuk membangun sikap peduli dan peka terhadap sesama. sehingga tidak ada perhitungan untung rugi dalam menolong sesama.

Setiap orang sampai dengan hembusan nafas terakhirnya masih bisa berbuat baik kepada orang lain sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Berbuat yang terbaik bagi sesama dengan menggunakaan apa yang masih kita miliki. Kemampuan dan kekuatan apa pun yang ada di dalam diri kita kiranya bisa dimanfaatkan untuk membantu orang lain.

Keberanian untuk keluar dari diri sendiri dan membagikan apa pun yang ada dalam diri kita, menjadi sebuah perjuangan untuk mewujudkan iman dalam medan hidup ini. keberanian kita untuk mengorbankan diri amat penting demi terciptanya kesejahteraan bersama dalam masyarakat.

Dan itu memampukan kita untuk terus terlibat dalam mukjizat pengadaan roti setiap harinya. Bersama dengan Yesus tidak ada yang tidak mungkin, semua bias terjadi. Walaupun dalam kekurangan pasti ada kelebihan yang bias berguna bagi sesama. Masih ada kebaikan yang mesti ditularkan kepada sesama.

Mari kita berusaha menemukan kekuatan di dalam diri kita. Kekuatan yang mampu menyemangati orang lain dan menjadikan mereka kuat walau berhadapan dengan tantangan yang berat. Tuhan memberkati

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven − eight =