Makna Abu Sebagai Simbol dalam Perayaan Rabu Abu

Kita baru memasuki masa puasa, masa tobat yang lasim kita sebut masa Pra-Paskah yang diawali dengan ibadat/perayaan Rabu Abu di mana setiap umat ditaburi abu pada ubun-ubun atau tanda salib pada dahi. Apa makna di balik simbol abu atau debu ini?

Makna Abu Menurut Kitab Suci

Sebelum kita menerima Abu di dahi kita pada ibadat/perayaan Hari Rabu Abu, sebaiknya kita terlebih dahulu mengerti makna dibalik simbol abu dalam tradisi Kitab Suci. Kata abu beberapa kali muncul bersamaan dengan kata debu. Dua kata ini berasal dari akar kata yang sama. Apar = Debu, Iper= Abu.

Debu adalah benda terkecil (pada zaman itu, sebelum ditemukan atom atau partikel), sifatnya: tidak adaartinya, mengotori, tak berguna dan tak bermanfaat, namun masih bisa dilihat. Sementara Abu mengacu pada sisa-sisa benda yang dibakar. Mengacu pada kemusnahan sesuatu yang ada menjadi tiada, kesia-siaan, dan tidak punya arti lagi.

Abraham ketika Ia berbicara dengan Tuhan, mengakui dirinya hanyalah debu dan abu (Kej 18:27). Debu dan abu adalah benda yang mempunyai derajat paling rendah di antara benda-benda lainnya.Dalam kitab Samuel dikatakan debu dan abu adalah tempat tinggal orang-orang miskin dan orang lemah. Allah mengangkat mereka dari debu dan abu. 1Sam 2:8. Intinya Abu adalah tanda pertobatan.

Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (lih. Yun 3:6). Di atas semua itu, kita diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah (Lih. Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Olah karena itu, pada saat menerima abu di gereja pada ibadat Rabu Abu, kita mendengar ucapan pastor, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (you are dust, and to dust you shall return).”

Asal Usul Hari Rabu Abu

Penggunaan abu dalam liturgi Rabu Abu ini berasal dari Perjanjian Lama, dimana abu menjadi lambang perkabungan, rasa sesal, dan juga pertobatan umat. Pada abad ke-5 SM setelah Yunus berseru supaya orang kembali pada Tuhan dan melakukan pertobatan, Kota Niniwe kemudian memaklumkan puasa serta mengenakan kain kabung dan taja menyelubungi dirinya dengan kain kabung sembari duduk di atas abu.

Yesus juga sudah menyinggung tentang pemakaian abu yang ditujukan untuk kota yang menolak melakukan pertobatan dari dosa walau sudah melihat sendiri mujizat secara nyata dan mendengarkan kabar gembira. Gereja Perdana menggunakan abu sebagai simbol serupa. Tertulianus menulis dalam bukunya yakni “De Poenitentia” sekitar 160 sampai 220, jika pendosa yang mau bertobat harus hidup tanpa bersenang-senang dan mengenakan kain kabung serta abu.

Pada abad pertengahan, mereka yang sedang menghadapi ajal akan dibaringkan di atas tanah beralaskan kain kabung lalu diperciki dengan abu dan imam akan memberikan berkat pada orang tersebut dengan air suci sambil berkata ,”Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Sesudah itu, imam akan bertanya, “Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?” Yang mana akan dijawab orang tersebut dengan, “Saya puas.”

Abu Sebagai Simbol

Abu menjadi sesuatu hal yang dibenci orang bersih, sebab abu akan mudah menempel dan bertebaran dimanapun yang akan merusak atau mengurangi keindahan. Akan tetapi, debu dan juga abu mudah untuk dibersihkan dan kumpulan abu juga mudah terbang berserakan saat terhembus angin. Selama beberapa abad sebelum Kristus, abu sudah digunakan sebagai arti pertobatan dan dalam Kitab Kejadian disebutkan jika manusia tercipta dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Ini terjadi sebelum Roh Allah dihembuskan pada manusia, sebab tanpa adanya Roh Allah maka manusia tidak akan ada artinya layaknya seperti debu dan tanpa adanya Allah, maka manusia hanya bisa berbuat dosa.

Jika dilihat dari segi teologis, makna dari Rabu Abu sendiri adalah para umat yang percaya mengungkapkan sikap penyesalan serta pertobatan yang didasari dengan kesadaran kefanaan diri serta betapa bergantungnya kita dengan rahmat Kristus. Sedangkan tanda salib dari abu di dahi yang diberikan pada perayaan Rabu Abu tidak hanya sebagai tanda saja, namun memiliki maksud memungkinkan setiap individu untuk menghayati makna Rabu Abu. Simbol abu ini selayaknya dijadikan tanda peringatan jika kita adalah manusia yang penuh akan dosa dan sudah membuat Yesus disalibkan sekaligus sebagai pengingat akan ritual Israel Kuno saat seseorang menabur abu di atas kepala atau seluruh bagian tubuh sebagai tanda akan kesedihan, pertobatan dan rasa menyesal yang mendalam.

Kita melihat siapa diri kita di hadapan Allah. Tuhan lah Allah, Raja atas diri kita, sementara kita bukanlah apa-apa, tidak berarti, seorang hamba sahaya, tetapi dikasihi oleh-Nya.Debu dan abu adalah simbol hancurnya hati dan diri kita setelah kita menyadari betapa dosa telah merusak diri kita sedemikian rupa.

Kita menjadi tidak bisa berpikir jernih, penuh nafsu dan tipu daya, pintar bersandiwara, melakukan kebohongan demi kebohongan. Karena dosa kita lupa bahwa kita membutuhkan Tuhan dan sesama. Kita menjadi sedemikian sombong, angkuh dan congkak hati.

Menjadi debu dan abu artinya kita meninggalkan kedirian kita, dengan segala kesombongan, sifat egois, segala hal yang merusak identitas kita sebagai anak-anak Allah, yang telah ditebus oleh darah Kristus. Kesadaran bahwa diri kita adalah debu membantu kita untuk melihat orang lain. Kita semua berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu, maka tidak perlu ada yang disombongkan lagi.

Tidak perlu seorang pun merasa lebih hebat dari orang lain lalu memandang rendah orang lain. Sebutir debu tidak akan terlihat oleh mata. Debu akan terlihat bila dikumpulkan bersama debu lainnya. Bukankah dunia ini berasal dari kumpulan milyaran debu. Maka diriku yang adalah debu, akan lebih menemukan  eksistensi dan maknanya, ketika aku berada bersama yang lain. Aku memerlukan orang lain, dan orang lain pun memerlukan aku.

(Ben- Dari berbagai sumber)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × 5 =