Liturgi dan Devosi

Uraian sederhana: apa bedanya?

Pendahuluan:

Saya pernah membaca, panitia sebuah perhelatan olah raga internasional menawar kepada pimpinan kontingen Indonesia untuk memainkan lagu kebangsaan Indonesia “Indonesia Raya”, tapi hanya refrennya saja. “Mengapa?” tanya wakil kita itu. “Terlalu panjang, bila lengkap”. Dengan mantap wakil kita itu menjawab: “Tidak bisa, no way!”

Panitia perhelatan itu termasuk orang bodoh, kuper rupanya. Sebuah lagu kebangsaan tidak pernah dapat disingkat atau dipotong, hanya dinyanyikan sepenggal, apalagi dalam perhelatan resmi. Mengapa? Lagu kebangsaan (di sini Indonesia Raya) itu mewakili seluruh negara, seluruh bangsa, warga negara di mana pun mereka berada. Bila sekelempok orang Indonesia dengan sikap tegap dan serius penuh hormat menyanyikan Indonesia Raya, maka yang menyanyikan itu tidak hanya mereka itu saja tetapi segenap bangsa Indonesia; negara dan segenap warga negaranyalah yang sedang bernyanyi. Karena itu lagu ini bersifat sakral. Tidak bisa diperlakukan semau-maunya, baik oleh bangsa sendiri, apalagi oleh bangsa lain.

Demikian juga dengan upacara-upacara kenegaraan yang lain. Pengambilan sumpah menteri atau siapa saja, juga tidak boleh sembarangan. Ada tata tertibnya yang baku, yang tidak boleh diubah-ubah. Karena yang terjadi di sini adalah seluruh negara, seluruh rakyat warga negara itulah yang sedang menyumpah, walau pada perayaan itu Presiden atau kepala kantor yang mengambil sumpah. Tapi di sini dia mewakili negara dan bangsanya.

Ini berbeda dengan lagu-lagu atau peristiwa yang lain. Lagu “Berkibarlah benderaku”, “Tanah Airku Indonesia” dan sejenisnya. Ada ikatan erat dengan rasa nasionalisme, ada warna kebangsaan yang mendalam, tetapi boleh dinyanyikan oleh siapa saja, di mana saja, kapan saja dan dengan sikap tubuh apa saja. Contoh: beberapa waktu yang lalu muncul lagu “Tanah Airku Indonesia” dilagukan oleh berbagai tokoh, masing-masing sepotong dan hasilnya tidak jelek-jelek amat. Tapi lagu “Indonesia Raya” tidak boleh diperlakukan demikian. Yang terakhir, lagu-lagu lain yang biasa, seperti “Bengawan Solo” dan “Aku rindu” bisa diperlakukan dengan sangat bebas.

Liturgi

Liturgi dan devosi, keduanya muncul selain dengan tertib urutan tindakan manusia, juga dapat diiringi dengan lagu-lagu tertentu. Keduanya mengungkapkan terjadinya suatu relasi konkrit nyata antara manusia dan Tuhan antara Tuhan dan manusia. Peristiwa ini disebut doa. Karena itu ada doa liturgis, upacara liturgis, nyanyian liturgis, ada pula doa devosi, upacara devosi dan nyanyian atau lagu devosi. Apa bedanya?

Dalam doa-doa atau upacara-upacara liturgi, yang berdoa dan melaksanakan upaccara itu adalah Gereja sebagai umat Allah. Doa atau upacara liturgi adalah milik Gereja sebagai umat Allah. Karena itu, seperti kalau kita sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya, kalau saya sedang merayakan perayaan Ekaristi, yang merayakan itu adalah segenap umat Allah, seluruh Gereja, atas nama Gereja. Ini tidak tergantung berapa banyak sedikitnya yang ikut. Seorang imam yang karena keadaan khusus merayakan Ekaristi sendirian, dia pun merayakannya atas nama dan bersama dengan seluruh Gereja. Karena itu dianjurkan supaya imam merayakan Ekaristi tidak sendirian.

Karena upacaya liturgi itu adalah milik Gereja sebagai umat Allah, maka semuanya berada dalam wewenang Gereja. Gereja di sini dalam arti hirarki: para Uskup di bawah pimpinan Sri Paus. Sebagaimana upacara kenegaraan tidak boleh diubah-ubah sembarangan, demikian juga upacara liturgi tidak boleh diubah-ubah. Bahkan seorang Uskup pun tidak boleh mengubah perayaan liturgi.

Perayaan liturgi berkisar khususnya seputar pelayanan ketujuh Sakramen: Baptis, Krisma, Ekaristi, Rekonsiliasi, Imamat, Perkawinan dan Perminyakan Orang Sakit atau menjelang kematian. Ekaristi menjadi inti dan puncak semua sakramen itu. Karena ini merupakan perayaan Gereja, maka petugas yang melaksanakannya pun harus resmi diangkat oleh Gereja. Istilahnya: ditahbiskan atau menerima tahbisan oleh seorang pemegang kekuasaan Gereja yang sah: seorang Uskup Katolik.

Homili dalam perayaan Ekaristi misalnya, masuk bagian integral dari perayaan Ekaristi itu. Karena itu seorang yang tidak tertahbis tidak boleh membaca Injil (dalam perayaan Ekaristi) dan memberikan homili. Kedua bagian ini sekurang-kurangnya harus dilakukan oleh seorang diakon yang ikut aktif dalam perayaan Ekaristi yang bersangkutan. Dengan demikian bisa dimengerti mengapa tidak dianjurkan, bahwa homili diberikan oleh seorang imam lain yang bukan pemimpin perayaan Ekaristi yang bersangkutan.

Sharing, kesaksian, pengumuman bukan masuk bagian upacara liturgi; karena itu baru boleh diberikan sesudah upacara liturgi itu selesai. Biasanya sebelum Berkat Penutup.

Dalam perayaan liturgi, imam yang menjadi pemimpin, bukanlah tampil atas namanya sendiri, tetapi atas wewenang Gereja yang adalah Tubuh Kristus. Seorang imam yang memimpin perayaan itu bertindak di sana “in persona Christi” , “dalam pribadi Kristus” dengan kata lain: Kristuslah yang hadir, yang memimpin, dalam diri sang imam. Karena itu pun keabsahan sakramen tidaklah tergantung pada mutu rohani sang imam. Seorang imam yang berdosa pun dapat memberikan sakramen secara sah. Sakramen tetap terjadi, Kristus tetap hadir dalam sakramen itu dan mendatangkan keselamatan bagi mereka yang menerimanya. Soal berdosa atau tidaknya seorang imam yang berdosa berat, namun tetap merayakan, memimpin perayaan liturgi itu, ini soal lain lagi.

“In persona Christi” ini muncul dengan lebih jelas dalam rumusan-rumusan di mana dipakai rumusan orang pertama: “aku” . Misalnya, sesudah imam selesai mempersiapkan roti dan anggur, dia mengajak umat berdoa bersama: “Berdoalah saudara-saudara supaya persembahanKU dan persembahanmu…” Rumusan paling nyata terdapat dalam rumusan Konsekrasi. Di sini imam mengucapkan saja kata-kata Yesus, seolah-olah (dan memang demikian!) Yesus sendirilah yang berkata: “Terimalah dan makanlah, inilah TubuhKU…. Terimalah dan minumlah, inilah DarahKU…” Dan dalam Sakramen Rekonsiliasi: “Aku memberikan absolusi…” Di sini, seorang imam bertindak “In Persona Christi” dalam Pribadi Yesus Kristus: Yesus Kristuslah yang mengubah roti menjadi Tubuh Kristus, air menjadi Darah Kristus dan yang memberikan absolusi. Semuanya itu oleh Imam, “in Persona Christi”. Ini bisa terjadi berkat tahbisan imamatnya yang memberikan kuasa imamat Kristus kepada orang yang ditahbiskan itu.

Dengan demikian dalam upacara liturgi, terjadi sesuatu yang agung, yang suci: Yesus Kristus sendiri tidak hanya sungguh datang dan hadir, tapi juga memimpin seluruh upacara itu. Dan kita diundang untuk datang. Ingat saja ajakan imam sebelum kita menyambut komuni: “Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan Tuhan”. Tuhanlah yang mengundang, kita yang datang; bukan sebaliknya kita yang mengundang, lalu Tuhan datang hadir.

Dalam upacara liturgi kita memang menyanyikan lagu puji-pujian juga, tetapi ingat: kita memuji karena Tuhan mengndang kita datang. Kita memuji, karena kita diundang Tuhan itu sendiri. Betapa istimewanya kita… Betapa mulia dan semaraknya perayaan liturgi itu…

Karena upacara liturgi itu milik Gereja sebagai umat Allah, maka bahasanya pun tidak sembarangan. Zaman dahulu ada bahasa Gereja (Barat), yakni Latin. Tidak menjadi masalah, kendati umat tidak mengertinya. Sesudah Konsili Vatikan II, Gereja dengan resmi (melalui Konsili!) memberi kemungkinan tampilnya bahasa lokal mana pun dalam upacara liturgi, supaya umat dapat mengerti dan menghayati seluruh upacara liturgi itu. Tetapi rumusan dalam bahasa setempat ini pun tidak sembarangan: harus ada pengesahan resmi dari Sri Paus. Tentu saja melalui Kongregasi/Departemen yang mengurusi ibadat. Tapi tanda tangan Ok atas nama Sri Paus.

Ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan upacara liturgi dalam Gereja Katolik kita. Ini demi terpeliharanya, hidup dan berkembangnya karya keselamatan Yesus Kristus dalam dan melalui Gereja-Nya, Umat Allah-Nya.

Masih ada bentuk liturgi yang lain, yakni Doa Ofisi Ilahi atau yang dahulu dinamakan Doa Brevir. Seperti Ekaristi, Doa Brevir juga harus dalam bentuk yang sudah ditentukan oleh wewenang Gereja Universal. Sebelum Vatikan II, hanya ada dalam satu bahasa, yakni Latin. Doa Ofisi Ilahi bersumberkan langsung pada Kitab Suci, khususnya kitab Mazmur. Kalau dahulu, 150 Mazmur itu selesai didaraskan selama satu minggu, sekarang selama empat minggu dan dalam bahasa setempat yang sudah disahkan oleh Konferensi para Uskup setempat. Doa Ofisi Ilahi ini wajib didoakan oleh para biarawan/biarawati dan semua imam diosesan (Praja). Sekarang umat awam pun semakin banyak yang terarik ikut mendoakan Doa Ofisi Ilahi ini. Di Gereja St. Paulus, Depok sesudah perayaan Ekaristi harian, Doa Ofisi Ilahi ini didoakan bersama-sama oleh para imam yang hadir dan sejumlah umat, biasanya sekitar 15an orang.

Sebagai upacara liturgi yang lain, doa ini pun merupakan doa resmi seluruh Gereja sebagai Umat Allah. Karena itu bila seseorang mendoakannya sendirian, maka dia ini pun berdoa bersama dengan segenap Gereja yang Kudus itu.

Devosi

Sebagaimana penghayatan nasionalisme kita tidak hanya dimunculkan dalam lagu kebangsaan (Indonesia Raya) dan upacara-upacara kenegaraan lainnya, demikian pula hidup menggereja kita dalam bidang penghayatan iman dalam relasi kita dengan Tuhan, tidak hanya terungkap dalam perayaan liturgi. Di luar Indonesia Raya, masih ada banyak lagu lain, seperti Tanah Airku Indonesia, Halo-halo Bandung. Demikian juga di luar upacara liturgi masih ada begitu banyak upacara-upacara lain yang tidak kalah meriahnya. Upacara-upacara lain yang non liturgi itu disebut: (upacara) devosi. Kata ini berasal dari bahasa Latin devotio (dari kata kerja: devovere), yang berarti ‘kebaktian, pengorbanan, penyerahan, sumpah, kesalehan, cinta bakti’. Dalam tradisi kristiani, devosi biasa dipahami sebagai bentuk penghayatan dan pengungkapan iman Kristiani di luar liturgi resmi.

Devosi merupakan perayaan iman, dapat bersifat pribadi atau umum yang melibatkan orang lain, bahkan sejumlah besar umat. Beberapa contoh: berbagai macam novena, juga macam-macam rosario, jalan salib, berziarah, doa kepada santo ini atau santa itu dan adorasi pada Sakramen yang Mahakudus, Karismatik, penghormatan pada Hati Kudus Yesus, Nama Yesus, Darah Yesus, penghormatan pada Bunda Maria dalam format Gua Maria yang berkembang di seantero Indonesia, dan banyak lagi. Semua bentuk devosi ini, apalagi Adorasi Sakramen yang Mahakudus tidak berdiri sendiri, tetapi bersumber dan bermuara pada pokoknya, ialah: perayaan Ekaristi Kudus, atau Sakramen Ekaristi.

Semua devosi itu bisa diungkapkan dalam bentuk doa pribadi, karangan sendiri atau orang (kudus) lain, pada hari dan waktu menurut kesempatan yang lebih cocok bagi masing-masing orang. Tapi dapat juga dilakukan dalam perayaan Ekaristi Kudus. Misalnya perayaan Ekaristi Kudus untuk menghormati Hati Kudus Yesus, yang biasanya dilakukan pada hari Jumat pertama.

Penghormatan pada Hati Kudus Yesus itu merupakan devosi, tetapi Ekaristi Kudus yang dirayakan itu merupakan Lithurgi Gereja. Pada hari Jumat Pertama, sesudah perayaan Ekaristi biasanya diadakan Adorasi pada Sakramen Mahakudus. Dua peristiwa ini sama sekali berbeda: Ekaristi itu liturgi, sedangkan Adorasi itu devosi. Karena itu juga dilakukan secara berbeda, terpisah satu dari yang lainnya, pakaiannya pun tidak sama. Kasula hanya dipakai untuk perayaan liturgi, karena itu sewaktu memimpin Adorasi, imam harus memakai pakaian lain: alba mini, yang disebut juga: superpli. Tetap dengan stola, karena stola ini menunjukkan imamatnya.

Berbeda dengan Lithurgi, devosi dapat dijalankan dengan kebebasan yang besar, baik dalam bentuk, bahasa, maupun kapan doa itu didoakan.

Doa-doa biasa yang lain

Selain Liturgi dan devosi, masih ada bentuk-bentuk ataupun macam-macam doa yang lain: Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Malaikat Tuhan, Litani, segala doa untuk keperluan khusus, seperti doa untuk anak, orang tua, lulus ujian, mendapatkan pacar, doa pagi, doa malam, sebelum dan sesudah makan dan sebagainya. Semuanya dapat juga dalam bentuk lagu atau nyanyian. Lihat saja dalam Buku Puji Syukur, Madah Bakti atau buku-buku yang lain.

Penutup: Devosi dalam kehidupan iman

Bila Doa Liturgi diumpamakan pohon, maka devosi bersama dengan doa-doa biasa lainnya dapat diibaratkan dengan dedaunan dan bunga-bunga serta buahnya. Semuanya itu membuat seluruh tetumbuhan iman Katolik menjadi subur dan segar, semarak, nyaman, memberi keteduhan dan ketenteraman kepada umat.

Tanpa devosi dan doa-doa biasa lainnya, kehidupan menggereja menjadi cukup kurus dan kurang semarak bahkan kaku. Masih ada pohon dengan beberapa daun dan bunga, tetapi tidak subur dan memberi kesegaran.

Karena itu, hendaknya segenap umat giat dan taat menjalankan liturgi dan bersemangat serta rajin menjalankan devosi dan doa-doa biasa lainnya. Perayaan Ekaristi dan Sakramen-sakramen lainnya harus dirayakan dengan indah dan semarak, tetapi di samping itu umat pun rajin mendoakan Jalan Salib, Rosario, Lamentasi, Tuguran, Novena, aktif mengikuti pendalaman Kitab Suci, acara AAP, APP bersama dalam lingkungan dan sebagainya. Dengan demikian dapat diharapkan Gereja bisa hidup, tumbuh dan berkembang dengan baik, memberikan buah-buah bernas bermutu, karena iman umat semakin dalam dan kokoh berakar pada sumbernya: Yesus Kristus.

Semoga.

Alfons S. Suhardi, OFM
Depok, 15 Maret 2018.

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 2 =