Kunjungan Kemanusiaan Ordo Fratrum Minorum ke Yayasan Darul Aitam Al Asyari Depok

DEPOK – Selain peduli dengan alam ciptaan, Ordo Fratrum Minorum (OFM) Guardian Depok pada awal Februari 2019 lalu, melakukan silaturahmi ke Pondok Pesantren Al Karimiyah yang berada di bilangan Sawangan Depok.

Kali ini, Senin siang, 1 Juli 2019, para Pastor dan Frater pengikut Fransiskus Asisi melakukan kunjungan kemanusiaan ke Yayasan Darul Aitam Al Asyari, pimpinan H. Suja’I Azzain; yang berada di Jl. Kp. Gedong No. 30-32, Kemiri Muka, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424.

Kunjungan tersebut dikoordinir langsung oleh RP. Alferinus Gregorius Pontus, OFM dan RP. Fransiskus Assisi Oki Dwihatmanto OFM. Hadir dalam acara tersebut Prof. Dr. Alex Lanur, OFM, RP. Alfons S. Suhardi, OFM, RP. Bertolomeus Jandu OFM serta para frater.

Kunjungan disambut ramah oleh para pengurus Yayasan Darul Aitam. Ustadz Rafeudin dalam sambutan pembukaan mengatakan menjalin silaturahmi merupakan hal penting yang selalu ditekankan dalam agama. Dengan silaturahmi, rasa persaudaraan dan saling memiliki akan terbangun.

“Kita patut bersyukur bisa hidup bersama-sama di negara Indonesia dalam suasana penuh kedamaian. Apabila kita perhatikan kejadian di luar negeri tentu kita sangat prihatin karena adanya konflik. Semoga kita tetap satu sebagai orang Indonesia yang kedepannya lebih rukun, makmur dan sejahtera”, ujar Ustadz Rafeudin.

Kami sangat berterima kasih atas silaturahim dari para pastor dan saudara-saudara semuanya. Semoga momen seperti ini sebagai jembatan persaudaraan diantara kita yang diciptakan sama oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, lanjutnya.

Selain itu, Ustadz Mohamad Iqbal dalam kesempatan yang sama menyampaikan, senang atas kunjungan sebagai wujud toleransi keagamaan di wilayah Kota Depok. Hal Ini sebenarnya adalah warna dari Indonesia. “Saya pribadi mengpresiasi kepada saudara-saudara yang telah menyelenggarakan acara silaturahmi ini,” ujar Ustadz Iqbal.

Tidak hanya itu, ucap Ustadz Iqbal bahwa kehadiran saudara-saudara di tempat ini menunjukan bahwa silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahim, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Semoga kita bisa meraih surgaNya dengan dengan berbagai bentuk ikatan dan hubungan, diantaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi dan hubungan kemanusiaan lainnya. Maka demi mencapai kebutuhan tersebut adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesamanya. Islam sangat memahami hal tersebut, oleh sebab itu silaturahmi harus dilaksanakan dengan baik sebagai bersaudara.

“Kunjungan dari saudara-saudaraku di tempat ini pertanda bahwa ukhuwah (persaudaraan) dan toleransi yang sangat tinggi. Kita bersyukur bahwa kita diciptkan dan memuliakan Tuhan yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa walaupun dengan cara yang berbeda. Semoga kita terus meningkatkan dan mempertahankan kerukunan, keharmonisan, dengan mempererat tali persaudaraan dan kekerabatan di tanah air kita Indonesia yang berdasarkan Pancasila”, pesan Ustadz Iqbal.

Pada akhirnya Fransiskus harus pulang sebagai seorang biarawan Kristen dan sultan Malik al-Kamil tetap sebagai sultan Muslim. Mereka telah memberi teladan pada kita untuk selalu mengutamakan dialog dalam setiap pertikaian yang terjadi. Dendam, kebencian, dan permusuhan mungkin memang pernah mewarnai sejarah dunia, tapi perdamaian sejati bukanlah sesuatu yang tidak mungkin selama manusia memiliki hati dan pikiran terbuka untuk selalu berdialog.

Hal tersebut adalah yang disampaikan Pater Goris dengan sedikit menceritakan hubungan baik antara Sultan Malik al-Kamil dengan Santo Fransiskus Assisi selaku pelindung Ordo Fratrum Minorum (OFM) atau Ordo Saudara Dina yang terjadi sekitar tahun 1219 di saat-saat suasana mencekam yang dialami penduduk kota Damieta dimana tentara salib menyerbu dan masuk membinasakan kota itu.

Diceritakan Pater Goris bahwa di tengah suasana perang salib, seorang biarawan yang berpakaian compang-camping tanpa beralas kaki nekat melintasi perbatasan Mesir, meski telah dilarang oleh Pelagius. Bersama temannya, biarawan ini tetap teguh untuk menyampaikan misi perdamaian kepada Sultan Malik al-Kamil.
“Fransiskus yang kemudian dikenal dengan nama Santo Fransiskus dari Assisi dan bruder Iluminatus berhasil melewati perbatasan yang sudah masuk dalam zona perang pada tahun 1219. Mereka ditangkap dan kemudian dihadapkan kepada sultan”, ujar Pater Goris.

Lebih lanjut ungkap Pater Goris, keberanian Fransiskus menembus zona perang yang membahayakan nyawanya; apalagi sebagai seorang biarawan Kristen, tentu menjadi target utama tentara lawan yang pada waktu itu memang dalam kondisi perang dengan pasukan salib, merupakan tindakan yang tidak dapat diterima secara akal sehat. Itulah sebabnya ia berulang kali dicegat oleh kardinal Pelagius agar mengurungkan niatnya menemui sultan. Bayangan tentang ‘kekejaman’ itu tak menyurutkan semangat Fransiskus untuk menjalankan misi diplomasi damainya.

“Apa yang menjadi kekhawatiran dari dunia Kristen tentang watak sultan Malik al-Kamil sungguh berbeda dengan yang dirasakan dan diterima oleh Fransiskus sewaktu dihadapkan dengan sang sultan. Di Mesir, sultan Malik al-Kamil justru terkenal dengan toleransinya terhadap minoritas, termasuk kepada pemeluk agama Kristen. Fransiskus memohon untuk berdialog dengan Sultan tentang perdamaian. Sultan yang dicap negatif oleh dunia Kristen, pada waktu itu, ternyata lembut dan sangat bijaksana, sehingga mau mendengarkan biarawan miskin dan hina-dina itu”, ungkapnya.

Dalam kegiatan tersebut selain berbincang-bincang, ada performance lagu perdamain dan toleransi dari para frater. Sedikit bantuan juga diberikan kepada anak-anak yatim Yayasan Darul Aitam Al Asyari dari Ordo Fratrum Minorum (OFM) Guardian Depok oleh Pater Oki OFM.

Darius Leka, SH.MH. (Koordinator Kerasulan Awam Paroki Santo Paulus Depok)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 + three =