Komuni Rohani, Bolehkah?

Wabahnya virus Covid-19 telah mengubah kebiasaan dalam kehidupan di masyarakat. Pemerintah menetapkan tidak boleh ada kegiatan yang menimbulkan kerumunan. Semua dilakukan dari rumah masing-masing, termasuk urusan keagamaan.     

Tak terkecuali kita sebagai orang Katolik mau tidak mau harus mengikuti kebijakan pemerintah yakni beribadat di rumah kita masing-masing. Dan untuk tetap bisa melayani umat terkait perayaan ekaristi, gereja mengambil kebijakan dengan mengadakan misa secara online atau live streaming. Dan kensekuensi dari misa online ini adalah umat tidak bisa menerima Komuni Kudus seperti halnya pada misa di gereja. Dan sebagai gantinya umat bisa menerima Komuni Rohani.

Komuni Rohani meskipun sebenarnya tidak bisa menggantikan Komuni Kudus, tetapi paling tidak bisa mengobati kerinduan umat untuk menyambut Komuni Kudus yg sebenarnya. Dan ini dimungkinkan dalam keadaan darurat seperti saat ini di mana umat tidak bisa menghadiri misa di gereja. Dan masing-masing dari kita pasti akan bertanya sejauh mana Komuni Rohani itu bisa menggantikan Komuni Kudus yang sebenarnya atau apakah itu memang dibenarkan di dalam gereja.

Arti Komuni Rohani

Katekismus Baltimore menjelaskan, Komuni Rohani adalah keinginan kuat untuk menerima Komuni secara aktual, yang melalui keinginan tersebut kita membuat semua persiapan dan ungkapan syukur yang akan kita buat bila kita sungguh menerima Ekaristi Suci. Komuni rohani merupakan devosi yang harus berkenan bagi Allah dan membawa berkat dari-Nya untuk kita.

Dengan kata lain Komuni Rohani akan menjadi penghiburan besar untuk menerima rahmat-rahmat Ekaristi bila kita tidak mampu menerima Komuni Suci karena isolasi mandiri, karantina, atau penutupan gereja selama berminggu-minggu seperti sekarang ini.

Teologi Komuni Rohani

  1. Santo Agustinus.

St Agustinus menjelaskan bahwa keyakinan dalam Sakramen Mahakudus merupakan hal yang hakiki bagi Komuni Rohani, ‘Percayalah, dan kamu sudah memakannya’. Bagi St Agustinus, iman dan keinginan terkait erat – semakin besar iman kita, semakin besar keinginan kita akan Allah, ‘Semakin dalam iman kita, semakin kuat harapan kita, semakin besar keinginan kita, maka makin besar pula kapasitas kita untuk menerima karunia itu, karunia yang sangat agung.’ ( Surat St Agustinus kepada Proba )

  1. Santo Thomas Aquinas.

St Thomas Aquinas mengembangkan lebih lanjut pemikiran St Agustinus dengan berfokus pada keinginan kuat akan Ekaristi sebagai hal yang perlu bagi Komuni Rohani : “Efek dari sakramen dapat diterima setiap orang bila ia menerimanya dalam keinginan, walau tidak dalam kenyataan” ( ST III q80.a1 )

  1. Konsili Trente

Konsili Trente menyajikan pemahaman St Thomas Aquinas tentang komuni rohani sebagai keinginan akan Sakramen Mahakudus sebagai satu dari tiga cara menerima Komuni Suci: “Karena mereka telah mengajarkan bahwa beberapa orang menerimanya hanya secara sakramental, menerimanya hanya secara rohani, yaitu mereka yang memakan dalam keinginan roti surgawi yang ditempatkan di hadapan mereka, dengan iman yang hidup yang bekerja melalui kasih, yang mewujudkan buah dan kegunaannya…” ( Council of Trent , Concerning the most Holy Sacrament of Eucharist. Chapter III )

  1. Paus Pius XII

“Mereka yang tidak bisa menerima komuni suci – harus menerimanya setidaknya dengan keinginan, sehingga dengan iman yang diperbarui, dengan rasa hormat, kerendahan hati, dan kepercayaan penuh dalam kebaikan Sang Penebus ilahi, mereka dapat disatukan dengan-Nya melalui semangat kasih yang paling kuat” ( Mediator Dei , 117 )

  1. Paus Johanes Paulus II

“Merupakan hal yang baik untuk mengembangkan di dalam hati kita keinginan yang ajek akan sakramen Ekaristi. Inilah asal usul praktik ‘komuni rohani’” (Pope St. John Paul II. Ecclesia de Eucharistia, 34.)

  

Persiapan menyambut Komuni Rohani.

  1. Ia yang berada dalam dosa berat” harus setidaknya “bertobat di dalam hatinya bila ia ingin menerima komuni rohani secara bermanfaat.” ( Felico Capello SJ , Tractatus canonico-moralis )
  2. Perlunya berada dalam kondisi berahmat.

“Orang [yang melakukan Komuni Rohani] harus berada dalam kondisi berahmat, karena ini adalah syarat yang perlu bagi Komuni Suci, dan juga karena keinginan ini secara hakiki merupakan perbuatan kasih akan Kristus dalam Sakramen Mahakudus.” ( Francis D. Costa, S.S.S. )

 

Melakukan Komuni Rohani dalam misa online

St. Leonardus dari Port Maurice, OFM (1676-1751) merekomendasikan cara berikut ini dalam melakukan komuni rohani dalam bukunya The Hidden Treasure: Or The Immense Excellence of the Holy Sacrifice of the Mass.

Saat imam hendak menerimakan Komuni Suci , pada waktu yang sama ‘munculkanlah dalam hati anda sesal yang tulus’, dan dengan rendah hati pukulah dadamu sambil mengakui ketidakpantasanmu untuk menerima rahmat yang demikian besar ini.’

Dengan kuat keinginanlah, beserta kerinduan yang besar, untuk menerima ‘Yesusmu yang pantas disembah yang berkenan menyembunyikan diri-Nya dalam Sakramen demi kesejahteraan temporal dan rohani Anda.’ Bayangkanlah Bunda Allah, atau salah satu santo pelindung Anda memberikan partikel Ekaristi kepada Anda; pikirkanlah bahwa Anda sungguh menerimanya, dan setelah memeluk Yesus dalam hati Anda, katakan pada-Nya lagi dan lagi dengan kata-kata yang tulus yang diarahkan kasih, seperti doa berikut ini:

Ya Yesusku, aku percaya bahwa Engkau hadir dalam Sakramen Mahakudus. Aku mengasihi Engkau melebihi segala sesuatu dan aku menginginkan Engkau di dalam jiwaku. Karena saat ini aku tidak dapat menerima Engkau secara sakramental, datanglah sekurang-kurangnya secara rohani ke dalam hatiku. Seakan Engkau telah berada di sana, aku memeluk Engkau dan menyatukan diriku seutuhnya kepada-Mu; jangan biarkan aku terpisah dari-Mu. Amin.

Setelah momen adorasi hening, doakanlah doa iman, kerendahan hati, kasih, syukur dan persembahan yang biasanya anda ungkapkan melalui doa sesudah Komuni Suci.

Demikianlah Komuni Rohani ini jika lakukan dengan sengguh hati dan sesuai dengan ajaran gereja akan menjadikan kita bisa bersatu dengan Kristus Tuhan kita , sebagaimana halnya dalam Komuni Kudus yang bisa kita sambut dalam misa di gereja pada kondisi normal.

( AnDjua –  disarikan dari artikel blog Rorate Caeli oleh Nick Donelly , diterjemahan oleh Cornelius di Lux Veritatis 7)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty + ten =