Kerajaan Allah Hadir dan Berkembang dalam Diriku

HARI MINGGU BIASA XI TAHUN B

Yeh 17:22-24; 2Kor 5:6-10; Mrk 4:26-34

Kerajaan Allah hadir dan berkembang dalam diriku

 

Dalam Injil Markus 4:26-34 ini Yesus mencoba untuk menerangkan sesuatu perihal Kerajaan Allah. Ternyata tidak gampang juga, sampai-sampai Yesus pun perlu bertanya-tanya “Dengan apa lagi kita hendak membandingkan Kerajaan Allah… “ (ayat 30). Memang kalau kita membaca Injil, kita baca bahwa Yesus mempergunakan banyak gambaran atau perumpamaan perihal Kerajaan Alah itu. Kutipan ini pun ditutup dengan “dengan banyak perumpamaan yang semacam itu, Ia memberitahukan firman kepada mereka”

Apa itu Kerajaan Allah? Titik tolak pemikiran yang pertama adalah bahwa Kerajaan Alah itu bukanlah suatu tempat, seperti Kerajaan Mataram atau Kerajaan Sriwijaya, apalagi dengan raja dan bala tentaranya dan sebagainya. Kerajaan Allah bahkan bukan suatu yang kelihatan, apalagi dengan segala kebesaran istana dan kekuatan bala tentaranya. Yang akan diterangkan oleh Yesus adalah suatu kerajaan yang tidak nampak, yakni kekuasaan, kekuatan kehadiran Allah yang muncul keluar dalam tingkah laku mereka, orang-orang yang diresapi oleh kekuatan dan kekuasaan Kehadiran Allah itu. Dengan jalan ini maka “kehentak Allah” itu terjadi dalam kedamaian, kerukunan, saling mengampuni, saling menerima, kebaikan, di mana orang merasa diri diterima dan berkembang dan sebagainya. Dan kehadiran atau keterlaksanaan kerajaan Allah ini tidaklah atau belumlah sempurna, seutuhnya, tetapi mengalami dinamika naik turun. Perkembangan Kerajaan Allah itu pun tidak pertama-tama diukur dari jumlah orang yang menyatakan diri menjadi pengikutnya, tetapi terlebih dari betapa dalamnya kehadiran Allah itu sendiri dalam hati dan kehidupan para anggotanya. Ingat saja doa Bapa Kami: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di atas bumi …” Hal yang sama diungkapkan dua kali dengan kata yang berbeda. Paralelisme semacam ini sangat banyak terjadi dalam Alkitab.

Kerahasiaan perkembangan Kerajaan Allah itu digambarkan oleh Yesus dalam perumpamaan yang pertama: benih yang ditaburkan di tanah. Benih itu memang sungguh ditaburkan, jadi tidak begitu saja jatuh entah dari mana. Benih Kerajaan Allah memang sungguh-sungguh dikehendaki Tuhan jatuh ke hati manusia supaya tumbuh dan berkembang. Sebagaimana benih yang ditaburkan tadi tumbuh, berkembang, berbunga dan berbuah tanpa campur tangan si petani, demikian juga perkembangan Kerajaan Allah. Orang tidak tahu bagaimana persis prosesnya. Ada kekuatan tersembunyi yang mengerjakannya, yakni: kekuatan ilahi. Pihak manusia sekedar membuka diri, membiarkan Allah bekerja dalam dirinya dan bekerja sama dengan kekuatan kehadiran Allah itu sendiri. Sejauh kekuatan Allah itu kita biarkan hadir, sejauh itu pula kebaikan dan kekudusan dapat hadir dan berkembang dalam diri manusia. Begitu manusia menyombongkan diri atas kehadiran Allah itu, maka sama artinya dengan mengusir kehadiran Allah itu sendiri dan akibatnya kebaikan itu sendiri tidak bisa bertahan dan menghilang. Karena itu Yesupun memberi nasehat kepada orang yang mau berbuat baik: “Hendaknya tangan kirimu jangan tahu apa yang diperbuat tangan kananmu”. Kebaikan, rahmat Allah, bukanlah sesuatu untuk dipamer-pamerkan atau disombongkan. Begitu disombongkan, maka kebaikan dan rahmat Allah itu sudah hilang, karena kekuatan Allah tiak lagi hadir dalam orang itu. Kesombongan tidaklah kompatibel dengan Kerajaan Allah.

Kerajaan Allah ataupun kekuatan dan kehadiran Allah dalam diri seseorang, tidaklah mulai dengan sesuatu yang gegap gempita, yang membuat orang tertegun-tegun. Kerajaan Allah muncul dalam perkara-perkara yang kecil sederhana, seperti senyuman pagi pada orang lain, saling menyapa, mengambilkan minuman bagi suami, isteri, anak, orang tua, saling mengampuni dan sebagainya. Kalau ini menjadi peristiwa sehari-hari, maka tanda bahwa Kerajaan Allah memang sudah tumbuh. Dan ini bisa berkembang terus, tetapi juga bisa surut dan mati karena tidak dipelihara. Misalnya yang tadinya ada hubungan baik, tetapi karena merasa disakiti hatinya, lalu tidak mau lagi saling menyapa. Masalahnya kecil-kecil saja, tetapi sudah cukup kuat untuk mengusir kehadiran Allah dalam diri kita.

Ini digambarkan oleh Yesus dalam perumpamaan yang ke dua: biji sesawi yang merupakan biji terkecil, namun kalau tumbuh dapat menjadi besar dan menjadi tempat burung-burung di udara membangun sarangnya.

Sudah menjadi jelas apa itu Kerajaan Allah? Sedikit? Memang demikianlah halnya. Kita hanya dapat menangkapnya sedikit demi sedikit. Yang paling penting bukanlah bahwa kita mengerti, apalagi sepenuhnya. Yang paling penting adalah bahwa kita mengimani dan menghayati kehadiran kekuatan Allah itu dalam hidup kita. Kerajaan Allah, kekuatan Allah, kehadiran Allah dalam diri kita bukan untuk kita mengerti, melainkan untuk kita hayati, kita sadari dengan penuh syukur, karena kehadiran-Nya itu adalah tanda dan bukti cinta kasih-Nya yang sedemikian besar pada kita, supaya kita ini bahagia dan selamat sebagai anak-anak Allah yang sungguh dicintai-Nya. Bahkan Dia telah mengutus Putera-Nya yang sengsara dan mati di Salib demi menghadirkan diri dalam hidup kita ini.

Kita tidak banyak berbuat, kecuali membuka hati bagi dan bekerja sama dengan kehadiran Allah itu dan bersyukur pada Tuhan atas segala kasih-Nya yang berlimpah-limpah.

Kehadiran kerajaan Allah itu tidak sekedar diukur betapa sukses dan senangnya kita; dalam kegagalan dan kesedihan hidup kita pun, Kerajaan Allah itu hadir dalam diri kita.

Ku bersyukur pada-Mu ya Tuhan, dalam untung dan malang.

Alfons S. Suhardi OFM

15 Juni 2018

 

Berita dan Artikel Lainnya