Kebahagiaan sebagai Pengikut-Nya

Sdr. Felisian Novendro Ambal, OFM

Sannyasi telah mencapai pinggiran desa itu dan bersiap untuk bermalam di bawah pohon yang rindang, tiba-tiba seseorang dari desa itu berlari terengah-engah mendekatinya dan berkata, “Batu! Batu!, Berikanlah saya batu yang istimewa.

” “Batu apa?” Tanya Sannyasi.  “Tadi malam, Dewa Shiwa menampakkan diri dalam mimpi saya,” kata orang desa itu.

“Dia mengatakan bahwa jika saya pergi ke pinggir desa di sore ini, saya akan bertemu Sannyasi yang akan memberikan batu intan yang membuat saya menjadi kaya untuk selama-lamanya.”

Sannyasi kemudian membuka tasnya dan mengambil sebuah batu intan, katanya, “Barangkali ini yang engkau maksudkan?” Sambil memberikan batu itu, dia berkata, “Saya temukan ini di jalan setapak di hutan. Engkau boleh memilikinya.”

Orang itu heran memandangi batu intan yang sebesar kepala manusia. Barangkali batu intan itu merupakan intan yang terbesar di seluruh dunia. Kemudian ia membawa intan itu pulang.

Akan tetapi, sesampainya di rumah, dia semalaman tidak bisa tidur. Pagi-pagi benar dia sudah kembali kepada Sannyasi dan membangunkannya, katanya, “Tuan, tolong berikan saya kekayaan yang engkau miliki yang membuat engkau dengan mudah memberikan intan itu kepada saya.” (Anthony De Mello, The Song of The Bird)

             Sulit untuk membayangkan bagaimana Sannyasi dengan mudah memberikan sebuah batu intan kepada orang yang belum dikenalnya. Apa yang terjadi dengan Sannyasi? Jika kita menjadi Sannyasi, apa yang akan kita lakukan? Sannyasi mengajarkan pada kita bahwa memiliki harta yang banyak bukanlah sebuah kekayaan yang bisa menimbulkan kebahagiaan dalam hidup ini.

Yesus dalam bacaan Injil mengajarkan pada kita bahwa kebahagiaan mampu diperoleh ketika seseorang secara sadar berkeinginan untuk mengikuti kehendak Allah. Apa yang dihendaki Allah dari kita?

Dalam konteks ini, Yesus menekankan syarat yang harus dipenuhi bagi siapa saja yang ingin menjadi murid-Nya. Panggilan kemuridan itu ditegaskan oleh St. Paulus kepada jemaatnya di Roma sebagai bentuk persembahan hidup kepada Tuhan melalui dua hal penting (bdk. Rom. 12:1-2), yaitu:

  1. Semangat doa

Doa merupakan sarana bagi kita untuk menjernihkan budi dan berkomunikasi dengan Tuhan. Kita pun tahu bahwa selama pandemi ini, secara tak langsung, Tuhan mengarahkan kita untuk mempererat kebersamaan dan cinta kasih dalam keluarga atau pun komunitas masing-masing. Masa pandemi ini kiranya menguatkan kita dalam berharap dan semakin beriman pada-Nya.

Selama ini, mungkin banyak anak yang sebelumnya kurang mendapat perhatian dari orangtua mereka kini memperoleh waktu yang cukup dengan orang tua mereka. Momen itu bisa menjadi kesempatan yang baik  dalam menguatkan cintakasih dan kebersamaan melalui kebiasaan doa bersama yang rutin. Dengan itu, kehendak Allah dapat dimengerti, dipahami, dan dilakukan dalam hidup sehari hari dalam keluarga atau pun komunitas untuk semakin bertumbuh dalam iman dan menemukan kebahagiaan sebagai murid Kristus yang sejati.

  1. Pembaharuan Budi

Sebagai murid-Nya pun, kita perlu mengubah pola pikir ke arah yang baru. Kekayaan yang kita miliki, baik itu harta atau pun talenta, hanyalah pinjaman dari Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Kita diciptakan secara unik oleh-Nya agar kita dapat saling melengkapi satu sama lain. Hendaknya hal itu tidak membuat kita menutup mata hati dan telinga terhadap jeritan orang-orang lain yang menderita di masa pandemi ini.

Kita perlu peka terhadap jeritan orang miskin dan orang sakit sebagai bagian dari tangisan bumi yang tengah terjadi saat ini. Hendaknya  pikiran, bakat, dan apa yang kita miliki bisa berguna bagi hidup orang lain. Melalui hai itu, kiranya kita mampu menemukan kebahagiaan sejati sebagai pengikut Kristus, karena hidup kita tak hanya berguna bagi diri sendiiri, tetapi juga untuk orang lain. Masa pandemi ini hendaknya membuat kita semakin menjadi orang-orang kristiani yang militan dalam membantu dan menghibur yang menderita sebagai perwujudan Roh Kristus di tengah dunia.

Dua hal di atas perlu kita lakukan dalam hidup sehari-hari di tengah new normal yang tengah kita jalani ini. Tangisan bumi ialah tangisan kita, tangisan orang miskin ialah tangisan kita bersama. Kita dipanggil untuk semakin militan demi mewujudkan kehendak-Nya.

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen − twelve =