Janda Miskin Yang Murah Hati

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XXXII TAHUN B

JANDA MISKIN YANG MURAH HATI

Injil hari Minggu yang lalu mengisahkan mengenai pertanyaan ahli Taurat kepada Yesus, yakni tentang “Manakah perintah yang paling utama? Yesus menjawab pertanyaan ahli Taurat itu dengan mengatakan bahwa perintah yang paling utama adalah mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia  sebagai perintah yang kedua. Kemudian ahli Taurat itu memahami dan mengamini jawaban yang diberikan oleh Yesus itu. Ahli Taurat itu dipuji oleh Yesus karena pemahamannya yang memadai akan perintah kasih itu dan Yesus menjamin bahwa, ahli Taurat itu “tidak jauh dari Kerajaan Allah”. Sebab Kerajaan Allah hanya akan diisi oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencintai Alah dan sesama baik dalam teori maupun prakteknya. Model/pribadi yang paling ideal untuk hal yang satu ini adalah Yesus Kristus sendiri yang mempertaruhkan segala-galanya untuk orang-orang yang Ia kasihi tetapi terutama musuh-musuh-Nya.

Saudara/saudari yang terkasih dalam Tuhan,

Bacaan Injil hari Minggu biasa XXXII tahun B ini membicarakan tentang iman yang semu dan iman yang hidup, iman yang nyata dalam tindakkan yang konkret, iman yang terasa dalam pengalaman hidup. Berkaitan dengan iman yang semu itu dikisahkan tentang pengajaran Yesus kepada orang banyak agar mereka mewaspadai ahli Taurat yang menghayati imannya secara semu. Kesemuan itu nampak dalam sikap keseharian ahli Taurat, seperti: “berjalan-jalan memakai jubah yang panjang, suka menerima penghormatan di pasar, suka menduduki tempat-tempat terdepan dalam rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan, mencaplok rumah janda-janda dan mengelabui orang-orang dengan doa yang panjang-panjang”. Kesemuan penghayatan iman ahli Taurat itu menghalangi mereka untuk mencintai Tuhan dan sesama secara otentik. Mereka paham tentang perintah mengasihi Allah dan sesama  sebagaimana dikisahkan dalam injil hari Minggu yang lalu tetapi kehidupan harian mereka tidak mencerminkan perintah yang mereka pahami. Ada ketimpangan antara apa yang mereka pahami dengan apa yang mereka hayati.

Iman yang hidup diungkapkan dengan amat bagus oleh seorang janda yang miskin yang menyerahkan semua yang dia miliki untuk menolong sesamanya. Janda miskin itu amat murah hati. Ia memberi dari kekurangannya. Mengapa dia melakukan ini? Dia melakukan ini karena dia yakin akan providencia divina/penyelengaraan Ilahi untuk kehidupannya sehingga dia tidak menahan sebagian dari apa yang ia punya untuk kehidupannya sendiri. Dia yakin bahwa Allah akan menyediakan apa yang menjadi kebutuhannya. Tindakkan janda miskin ini dikontraskan dengan tindakkan orang-orang yang berduit. Mereka ini memberi dari kelimpahannya. Mereka masih mempunyai banyak harta untuk menjamin kehidupan mereka dan masih akan tetap bisa hidup dengan kekayaan yang mereka miliki.  Kalau orang kaya misalnya: memberi 2 juta dari keseluruhan kekayaan dia yang berjumlah 200 juta, maka orang kaya itu masih mempunyai 198 juta dan uang sebesar itu masih bisa menjamin kehidupannya.

Saudara/saudari yang dikasihi dan mengasihi Tuhan

Bacaan pertama juga amat bagus untuk kita simak. Janda yang hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak dalam buli-buli karena percaya akan penyelenggaraan Allah mampu menghidangkan roti kepada nabi Elia bahkan masih ada sisanya untuk kehidupan dia dan anaknya untuk beberapa waktu lamanya. Allah senantiasa memberikan pertolongan pada waktunya asalkan kita mampu berbagi dengan sesama yang berkurangan. Karena itu janganlah ragu-ragu dan banyak pertimbangan untuk memberikan pertolongan dan berbagi dengan sesama yang membutuhkan uluran tangan kita. Kalau kita memberi kepada orang lain dengan tulus tanpa memperhitungkan untung rugi dari tindakkan kita itu, maka kita tidak akan berkekurangan malah sebaliknya kita akan memperoleh lebih banyak dari sekedar yang kita berikan. Pengalaman saya sendiri  menunjukkan hal itu. Beberapa bulan yang lalu saya bersama dengan pengurus wilayah mengunjungi seorang ibu yang usianya sudah usur dan sakit-sakitan dan penglihatannya sudah kabur. Ketika hendak pulang saya memberikan semua uang yang ada di dalam dompet saya meski nominalnya tidak seberapa. Beberapa minggu kemudian tanpa saya harapkan sebuah keluarga mengajak saya berbelanja dan ketika hendak pulang saya diberikan amplop yang berisi uang dengan nominal yang cukup.

Selamat berjuang, Tuhan memberkati

Pastoran St Paulus Depok, 08 Nop 2018

Berita dan Artikel Lainnya