Jaga Rahmat Baptisan Bukan Sekedar Memeluk Agama

Lebih kurang 45 peserta yang hadir dalam acara tersebut, selain pastor paroki, Pater Alforinus Gregorius Pontus, OFM dan beberapa anggota DPP, hadir pula baptisan baru serta orang tua dan tamu dari paroki lain yang ingin mengetahui seperti apa dan bagaimana cara umat paroki yang sudah menjadi warga Gereja menghayati dan mempertahankan rahmat baptisan itu dalam keberlangsungan hidup hingga akhir hayat.

Selaku pastor paroki, Pater Goris menyatakan terima kasih kepada sie Katekese yang sudah mengambil langkah pendampingan dan pembinaanlanjutan seperti ini. Dan kepada para peserta pastor paroki juga menyampaikan terima kasih semoga kehadiran semua mereka pada hari yang mungkin untuk bersenang-senang itu dapat bermanfaat untuk kehidupan beriman dan menghidupkan iman dalam praksis hidup bersama orang lain di masyarakat. Sebab hanya dengan demikian kita sungguh menjadi 100 persen katolik dan 100 persen Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 18 Mei 2019 di Aula paroki, gedung Yohanes Paulus 2 itu menghadirkan narasumber Magister Novisiat Transitus Saudara Dina, Rm. Oki Dwihatmanto, OFM.

Pada sesi I “Penghayatan Sakramen Baptis” pater magister menerangkan tiga point penting yang harus dipahami agar mempermudah penghayatan dalam keseharian hidup sebagai warga Katolik.

Selain pengertian Mistagogi sebagai pintu masuk untuk memahami terminologi dan arti penting dalam sakramen inisiasi agar mudah mengaplikasikan dengan penuh penghayatan, dua sub tema lain yang merupakan substansi pertemuan tersebut adalah ‘Rahmat Pembaptisan’ dan Menjaga Rahmat Baptisan.

Mistagogi adalah masa keempat dari seluruh proses inisiasi orang dewasa, yang dapat dikatakan pula sebagai masa pemantapan iman. Inti masa mistagogi adalah membimbing para baptisan baru untuk lebih memahami makna sakramen-sakramen dan menghayatinya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Lewat masa ini mereka dibantu untuk hidup secara kristiani dan kelak mati secara kristiani pula.

Masa mistagogi adalah masa pendampingan bagi orang-orang yang baru dibaptis supaya mereka menemukan
apa artinya berpartisipasi penuh dalam misteri sakramental Gereja dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian diharapkan hidup mereka semakin terbentuk oleh perayaan sakramen-sakramen yang mereka ikuti.

Sementara rahmat pembaptisan yang diterima para baptisan baru adalah penghapusan dosa yang umumnya kita kenal dengan dosa asal atau dosa pusaka warisan Adam dan Hawa. Dengan menerima rahkmat tersebut maka para baptisan masuk menjadi keluarga Gereja, anak-anak Allah sekaligus memperoleh rahmat pengudusan sebagai meterai rohanai yang terus lengket dan tak terhapuskan hingga akhir hidup.

Akan tetapi, kata pater Oki, rahmat baptisan yang telah kita peroleh ketika dibaptis tidak serta merta mengawal keidupan kita jika kita tidak menjaga dan merawatnya. Untuk itu, agar kita tidak sekedar sebagai pemeluk agama atau agama KTP, kita perlu menjaga dan harus merawatnya dengan mengikuti ajaran dan teladan Yesus dalam keseharian hidup kapan dan di mana saja serta berusaha untuk terus menghadiri perayaan sakramen, juga selalu terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.

Agar proses perawatan terhadap rahmat baptisan tersebut dapat berjalan baik dan normal, Gereja harus melek terhadap tantangan yang tak mungkin tidak menggerogoti proses penghayatan terhadap rahmat baptisan itu. Maka Sesi kedua Romo Oki memaparkan tentang “Tantangan Gereja Zaman ini”.

Selain sharing pengalaman dan tanya jawab yang begitu seru, romo Oki menampilkan beberapa tantangan utama yang selalu hadir dan dihadirkan di depan mata dalam keseharian aktivitas setiap manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kini telah menggugat kenyamanan hidup, dan tidak jarang menggoncangkan iman melalui sosial media yang penuh dengan vitur ‘indah kemilau’ dan berita hoax mengadu domba dari android dan smartphone genggaman tangan manusia.

Tantangan lain yang juga tidak kalah gencarnya adalah sajian-sajian instan dan indah gemerlap yang menggoda pada kecendrungan konsumerisme dan sekularisme. Dalam mengejar keindahan dan kemewahan itu telah membuat manusia menjadi egis karena harus bersaing, dan akan terjerumus ke dalam tindakan radikal dan terciptalah faham radikalisme sebagai buah dari persaingan tidak sehat.

Menghadapi kondisi demikian, lanjut romo Oki, perlu ada kesadaran terutama kaum awam untuk membantu
para klerus sebagai pelaksana pekerja Tuhan dalam pelayanan. Dan tentu lebih bertindak sebagai garam dan terang yang menampilkan sosok pelayan yang menciptakan rasa nyaman dan tenang, bukannya memperlihatkan wibawa kekuasaan yang melahirkan subordinasi yang membangun sekat untuk menambah jarak.

Untuk itu perlu ada tindakan dan langkah konkrit yang dijalankan seperti mengenang peristiwa-peristiwa sakramen lewat meditasi, rekoleksi. Melaksanakan unsur sakramen secara konkrit seperti saling berbagi dan saling memaafkan, menghadiri sesering mungkin perayaan sakramen penyerta hidup seperti ekaristi, sakramen tobat atau pengakuan dosa. Karena hanya dengan demikian ‘vitaminiman’ kita terus terjaga untuk tindakan kemanusian sebagai bentuk penghayatan iman atas rahmat yang sudah kita terima. (ber)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 + 11 =