Intelijen ala Yesus

Pada Februari lalu, para novis diundang untuk menghadiri acara natal, tahun baru, dan imlek bersama dengan umat lingkungan St. Bonaventura. Pada pertengahan acara, saya bertemu dengan seorang gadis kecil yang berusia sekitar 5-7 tahun. Ia terlihat diam dengan wajah cemberut. Ketika ditanya namanya siapa dan apa yang sedang ia pikirkan, ia enggan menjawab.

Akhirnya, saya mengajak beberapa novis untuk membuat gadis ini bisa senyum dan gembira dengan mengajaknya bergoyang, bernyanyi, dan bermain tebakan bersama. Wajahnya pun mulai menampakkan keceriaan dan sukacita, bahkan mulai ketagihan dengan hal-hal aneh  yang kami lakukan. Sebaliknya, kami sudah kehabisan ide. Tiba-tiba, kakaknya memanggilnya untuk segera pulang. Panggilan itu membuat wajahnya kembali muram, tetapi ia tetap berjalan ke arah kakaknya.

Pengalaman di atas menggambarkan kerinduan seorang gadis kecil akan kegembiraan dan sukacita. Hal itu juga terjadi dengan kedua murid yang sedang berjalan ke Emaus. Mereka terus berbincang tentang Yesus. Dengan gaya intelijennya, Yesus menghampiri mereka seolah-olah menyamar sebagai orang baru yang tak tahu apa-apa. Walaupun sebagai orang baru, ia malah menjadi narasumber melalui dialog mereka tentang Kitab Suci dan hal ikhwal lainnya. Mereka bahkan mendesakNya untuk tinggal bersama, karena ada sukacita dan damai yang timbul dari perjumpaan singkat itu.

Yesus selalu menyamar dalam rupa orang-orang di sekitar kita yang datang membantu kita ketika mengalami kesedihan dan beragam kesulitan. Ia hadir untuk memberitahu kita bahwa kesedihan dan duka cita hanyalah penderitaan sementara asalkan kita ingin mengajakNya untuk tinggal bersama kita. Gadis kecil tadi pun demikian, bahkan ia tak tahu siapakah para novis itu dan apa yang mereka lakukan. Ia hanya merasa bahwa perjumpaan itu membuatnya kembali menemukan sukacita dan kegembiraan yang sesuai dengan usianya.

Melalui dialog dan perbuatan Yesus, kedua murid yang sedang berjalan ke Emaus pun dihinggapi sukacita yang besar. Intelijen ala Yesus bukan sekadar mencari informasi yang tengah dihadapi oleh umatNya, tetapi Ia datang meneguhkan iman, membangkitkan harapan, dan membawa sukacita bagi kita.

Situasi pandemi covid-19 yang tengah merebak di dunia dan Nusantara menjadi kesempatan berahmat bagi kita untuk menebar sukacita (yang mungkin selama ini direnggut oleh kesibukan) dalam keluarga dan komunitas kita masing-masing. Maukah kita menjadi inteligen-inteligen Yesus bagi orang di sekitar kita?  Tuhan memberkati.  Vendro Ambal

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve + 7 =