In Memoriam ROMO ALFONSIUS MARIA SERVATIUS SUHARDI OFM

“RAJA TEGA” YANG SETIA HINGGA AKHIR

Ada ya, orang yang mengabdi hidupnya pada satu gagasan: hidup membiara? Berkaul kemiskinan, ketaatan, kemurnian? Romo Alfons, demikian dia dipanggil dan akun FB-nya @alfonssuhardi, salah satu dari sedikit orang yang menekuni panggilan hidup membiara yang tak main-main. Agustus 2021 lalu, Romo Alfons memastikan 60 tahun kesetiaannya dalam hidup membiara.

Semua itu ditekuni Romo Alfons tanpa henti sejak mengucapkan Kaul Kekal 2 Agustus 1961 di Cicurug Jawa Barat, lalu tahbisan diakonat dan imam di Pringsewu Lampung Selatan 2-3 Desember 1968, masa-masa studi misiologi, bahasa arab, dan semit di Kairo-Mesir serta Nijmegen-Belanda (1969-1977), menjadi dosen di STF Driyarkara (1978-2001), berbagai tugas ordonya sebagai formatur para frater, melayani Dokpen KWI (1985-1993), dan mewarnai umat paroki di Cipanas (2005-2013) dan Depok Lama (2014-2022).

JALAN SUNYI KESETIAAN

Romo bernama lengkap Alfonsius Maria Servatius Suhardi OFM ini menekuni jalan sunyi kesetiaan sebagai Fransiskan: dalam untung dan malang pelayanan pastoralnya. Ia tetap rendah hati dengan kelebihan intelektual & kelemahan manusiawinya. Ia bertahan untuk bersama dalam kegembiraan & kepedihan umatnya.

Kesetiaan dan resiliensi (ketangguhan) hidup membiara Romo Alfons adalah bukti nyata di zaman hipokrit berbalut kemilau cincin emas di tahbisan imam maupun pesta perkawinan.

Romo Alfons adalah mata air inspirasi tak hanya bagi para biarawan-biarawati. Demikian pula, bagi banyak pasangan yang menggumuli panggilan menikah. Kesetiaan itu nyata, layak diperjuangkan. Kemurnian itu selalu kontekstual, tak lekang waktu.

Romo Alfonsius Maria Servatius Suhardi, OFM (kiri) bertemu Paus Yohanes Paulus II  di Indonesia tahun 1989

RAJA TEGA & RAZIA SANDAL JEPIT

Sekitar 1997-1999, Romo Alfons pernah “sekelas” dengan kami. Maksudnya: dia mengajar, dan kami diajar, dalam perjumpaan kelas misiologi, seminggu sekali.

Dia kategori “raja tega”: menguliti sebagian kami di sidang skripsi dengan pertanyaan-pertanyaan ketus mengerikan. Bikin deg-deg duer. Skripsi-skripsi yang tampaknya gagah di judul, kerap kali dibedah lunglai, dari sisi tata bahasa hingga logika isi.

Bagi kebanyakan mahasiswanya, dia mengagumkan. Cara mengajarnya sederhana, sesuai setelan kemejanya yang bersahaja, selalu berkalung Tao, khas Fransiskan. Bahasa yang dipakai tidak tinggi-tinggi. Nah, yang tinggi itu standar nilai ujiannya. B itu sudah disyukuri.

Dia kampus, Romo Guru kerap mengadakan “razia sendal jepit” bagi para mahasiswa yang selalu saja memakai sendal jepit kamar mandi hingga selasar ruang-ruang kuliah. Razia yang mengesankan, sekaligus menegangkan.  Romo Guru ingin menunjukkan kesetiaan sebagai akademisi yang elegan dan bersahaja.

Hingga Saudari Kematian menjemput Pater Alfons, Rabu 11 Januari 2023, dia tetap berpegang teguh pada kesetiaan. Terima kasih ya Pater Guru, yang telah memaknai kata “kesetiaan” secara nyata dan mendalam, bermakna bagi kami dan banyak orang.

Dalam doa dan salam takzim untuk Romo Guru

E Napitupulu (salah satu murid dan umatnya)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen + thirteen =