Iman dan Pengolahan Sampah

Dalam Kitab Suci

“Allah melihat bahwa terang itu baik…” (Kej 1:4); kalimat pernyataan ini  diulang-ulang terus setiap kali Allah menyelesaikan menciptakan sesuatu  pada hari-hari penciptaan bumi dan langit, alam semesta kita ini. Lihat saja  kitab Kejadian 1: 10, 12, 18, 21, 25). Dalam ayat 22, dikatakan bahwa Allah  memberkati semuanya itu dengan berkata: “Berkembangbiaklah dan ber-tambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung -burung di bumi bertambah banyak.”

Apalagi waktu menciptakan manusia, ternyata Tuhan jauh lebih serius, tidak hanya berkata “Jadilah manusia” tetapi beref leksi terlebih dahulu. Mengam-bil niat dan rencana: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan -ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kej 1:26) Ada niat, ada rencana, ada blue print (“gambar dan rupa Kita”), dan bersama-sama: Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus: serempak bersama-sama.

Itu diungkapkan dalam Kitab Kej 2:7: menghembuskan nafas hidup ke da-lam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Jadi manusia itu menjadi hidup karena di dalamnya ada nafas Allah. Nafas berarti juga pribadi. Di dalam diri manusia ada pribadi Allah itu sendiri. Betapa agungnya martabat manusia itu. Kendati adanya do sa, martabat ini tidak diubah atau berhenti, hanya menjadi cacat, tidak sempurna lagi. Manusia tetap menjadi gambaran Allah, citra ilahi, tetapi tidak sempurna lagi.

Tujuannya pun sudah digariskan: “supaya mereka berkuasa atas …”. Singkatnya: manusia diciptakan menurut Gambaran Allah Tritunggal, karena kasih-Nya, dengan tujuan sebagai wakil Allah, atas Nama Allah menguasai dalam arti mengelola manurut tujuan penciptaan itu. Jadi bukan untuk menghabiskan, merusak atau menjadikannya barang mainan, sekedar senang-senang.

Kasih ilahi ada di setiap ciptaan: sama-sama saudara sekandung.

Ayat 31: “ Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat  baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” Dengan demikian disimpulkan bahwa segenap alam ciptaan itu – khususnya manusia – sungguh amat baik, karena merupakan hasil ciptaan Allah yang keluar dari kasih-Nya. Alam ciptaan bukanlah sekedar hasil suatu permainan atau kecelakaan.

Dalam setiap ciptaan ada kasih Allah. Karena itu tidak mengherankan bahwa St. Fransiskus dari Asisi, melihat bahwa tidak hanya sesama manusia, tetapi juga seluruh alam semesta ini diikat dan dihubungkan satu sama lain dengan kasih Allah itu sendiri sebagai Sang Penciptanya. Kita sama-sama berasal dari Bapa di surga. Karena itu semua ciptaan, tanpa kecuali, merupakan sa-nak saudara, bagaikan anak-anak dari bapa dan ibu yang sama. Fransiskus menyapa semua cipataan sebagai saudara dan saudari kandung.

Dalam madah yang ditulisnya pada akhir hidupnya, Fransiskus mengungkapkan syukurnya kepada Tuhan yang begitu Mahabaik atas anugerah-Nya kepada umat manusia : lalu didendangkannya dan disebutkan satu persatu kelompok ciptaan dan semua disapanya dengan sapaan “saudara” atau “saudari” (karena dalam bahasa Italia, semua kata benda it u berjenis kelamin: jantan, betina atau banci). Sapaan saudara dan saudari disini dalam arti saudara dan saudari kandung, jadi sedarah sedaging.

“Terpujilah Engkau ya Tuhan, karena saudara matahari ….” Dan seterus-nya. (Nyanyian Matahari 3).

Mencintai semua ciptaan

“Terpujilah Engkau” dalam bahasa Italianya adalah “Laudato si”. Karena  itu Paus Fransiskus yang berseru kepada segenap umat manusia supaya  mencintai dan memelihara alam semesta, khususnya bumi yang kita diami ini dengan perkataan “Laudato si” ini . Sri Paus melihat bahwa manusia semakin tidak mencintai alam semesta, tempat di mana manusia hidup. Manu-sia semakin tidak peduli pada lingkungan, hanya memikirkan diri sendiri atau kelompoknya. Karena itu diajaknya supaya kita menyadari tempat di mana diri kita hidup. Buatlah tempat lingkungan hidup kita itu bersih, segar, nyaman dan menyehatkan. Suasana yang menopang hidup kita menjadi lebih baik. Jangan justru merusak lingkungan di mana kita hidup. Dunia, bumi kita ini adalah rumah kita bersama, peliharalah, rawatlah rumah besar kita itu menjadi tempat di mana kita semua dapat hidup dengan nyaman, sehingga hidup kita bisa menjadi semakin sehat.

Kita harus mencintai semua ciptaan karena semua ciptaan ini adalah karya kasih Allah, dicintai oleh Allah, dipelihara oleh Allah yang sama. Karena itu kita dengan sendirinya harus mencintai semua ciptaan ini. Semua ciptaan, tanpa kecuali, kita perlakukan dengan kasih.

Dengan kasih memelihara semua ciptaan

Dengan latar belakang kasih seperti itu, maka dengan ringan hati kita bisa memperlakukan dunia sekitar kita ini. Semua yang kita lihat dan kita raba itu adalah citaan kasih Allah, disayangi Tuhan sebagaimana saya pun dicinta oleh Tuhan yang sama. Mereka semua adalah bagaikan saudara dan saudari kandung saya. Kakak adik saya sendiri. Memang Tuhan memberikan semuanya itu demi kepentingan manusia: untuk makanan, pakaian, rumah dan keperluan hidup kita.

Keadaan bumi kita sekarang ini

Keadaan bumi kita sekarang ini memang sudah parah benar. Dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara pengotor laut dan pantai kita no 4 (atau 3) di seluruh dunia. Pantai penuh dengan sampah. Tidak usah jauh -jauh, lihat saja selokan atau parit, dan sungai di dekat kita. Kalau kita melewati sebuah selokan, nyamankan Anda berdiri di situ dan melihat keadaan airnya? Kalau nyaman bersyukurlah kepada orang-orang di sekitarnya. Tapi, saya kira itu masih jarang terjadi, kebanyakan selokan kita kotor, air tidak jernih dan tidak mengalir lancar, karena penuh dengan macam-macam sampah.

Keadaan bumi kita (tidak hanya di Indonesia) sudah sedemikian rusak parah (tanah, tanaman, air, udara dan sebagainya), sampai-sampai Gereja kita me-nerbitkan dokumen-dokumen yang memperingatkan kita supaya memelihara bumi ini dengan lebih baik dan cermat. Sebagai pengikut St. Fransiskus Asi-si yang berkat cintanya pada alam ciptaan diangkat oleh PBB sebagai pelin-dung internasional ekologi, Pimpinan Umum OFM menerbitkan dokumen dengan judul yang sangat dramatis “Jeritan Bumi dan Jeritan Para Papa” dengan sub-judul “Bimbingan Studi OFM perihal Memelihara Alam Cip-taan. Sedangkan dalam Gereja Universal Katolik Sri Paus Fransiskus menerbitkan sebuah Ensiklik dengan judul “Laudato Sì” tentang Perawatan Ru m-mah Kita Bersama. Bukanlah tempatnya di sini untuk memberikan apa isi kedua dokumen itu. Tetapi lebih penting, apa yang dapat kita perbuat seka-rang dan di sini (di tempat di mana kita berada).

Laudato Sì pada akhir no. 19 berkata supaya kita “berani menjadikannya (kerusakan bumi) penderitaan kita sendiri dan dengan demikian menemukan sumbangan apa yang dapat diberikan oleh kita masing-masing”. Kita menjadi sadar bahwa bumi sedang menangis karena sakit, dan hati saya, hati kita, tergugah, berniat dan melakukan apa yang diperlukan.

Sampah plastik

Kita boleh saja tidak senang dan marah, bahkan marah-marah, mendengar bahwa Indonesia merupakan pembuang sampah plastik ketiga di dunia, atau bahwa sungai Citarum itu adalah sungai terkotor di dunia, tetapi bila tidak disertai perbuatan yang nyata, ketidak senangan dan kemarahan itu sama sekali tidak ada manfaatnya. Justru sebaliknya.

Menangani sgampah yang datang dari laut itu memang terlalu besar. Demikian pula membersihkan sungai Citarum supaya jernih kembali. Tetapi syukurlah, bukan itu yang harus kita lakukan. Mengapa? Karena sampah yang mengotori pantai dan mengotori sungai Citarum (dan sungai-sungai yang lain) itu ujung-ujungnya dari siapa? Dari orang per orang, dari keluarga dan dari industri.

Jadi, kita tidak usah mikirin orang lain, nyuruh ini nyuruh itu. Kita mikirin diri kita sendiri aja dulu. Lalu ajak teman temin di sekitar kita. Kalau saya tidak lagi buang satu botol plastik, maka sampah yang menggunung itu akan berkurang satu biji. Kalau kemasannya dari dedaunan, sebanyak apa pun akan busuk dalam hitungan bulan, tapi kalau plastik, katanya baru mulai mengurai (tidak hilang!) setelah seratus tahun. Masyaalloooh! Anak cucu kita bisa nemukan sandal jepit bekas yang kita pake dan buang sekarang ini!

Memang plastik sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok hidup modern. Tidak mungkin lagi sama sekali tidak menggunakan plastik. Soal kita sekarang adalah mengurangi penggunaan plastik sedapat mungkin , khususnya plastik yang bercorak sekali pake (lalu dibuang). Kita memang pembuang sampah plastik jenis ini dalam jumlah yang banya k sekali. Contoh sederhana: belilah bakso di pinggir jalan, dan bawa makan di rumah. Berapa kantong plastik yang kita bawa dan kemudian kita buang. Apalagi kalau buang -nya sembarangan!

Menjaga kebersihan: memilah sampah dengan iman, pemakaian  “tumbler”

Sadar akan pentingnya lingkungan hidup yang sehat dan menyehatkan, umat  paroki St. Paulus Depok dalam tahun-tahun akhir ini mulai mengambil langkah-langkah yang nyata sebagai kegiatan bersama dan pribadi. Dimulai dengan deklarasi pemakaian “tumbler” untuk mengurangi penggunaan botol-botol dan gelas-gelas plastik di manapun umat Katolik St. Paulus berada.

Juga dalam pertemuan-pertemuan dan pesta-pesta, setiap umat tak terkecuali dianjurkan, diajak, didorong untuk membawa “tumbler”nya masing-masing. Pihak tuan rumah atau penyelenggara hanya menyediakan dispenser di beberapa tempat dan mereka yang hendak minum dipersilahkan mengisi tumblernya sendiri-sendiri. Dengan cara ini maka jumlah sampah plastik dapat dikurangi secara significant. Botol dan gelas plastik hanya dipakai bila keadaan memang tidak memungkinkan jalan tumbler.

Panitia Natal tahun ini melangkah lebih lanjut lagi. Dengan semboyan “Umat Katolik dan pemilahan sampah”, umat diajak untuk membuang sampah tidak sembarangan dengan mencampur adukkan segala jenis sampah secara sembarangan. Buanglah sampah menurut jenis sampahnya: adanya yang organik ada yang non-organik; sebutan lain dapat diktakan juga “sampah basah” dan “sampah kering”.

Gerakan ini bukanlah gerakan main-main, melainkan suatu langkah besar yang penting yang harus dilaksanakan dengan sungguh -sungguh. Karena itu pada tanggal 7 Desember telah digelar sebuah Deklarasi “UMAT KATOLIK PILAH SAMPAH” sebagai langkah nyata semboyan Natal 2019 yang dic e-tuskan oleh panitia, yang berbunyi “Semangat Natal melahirkan Cara Pan-dang Baru Tentang Sampah” Keseriusan gerakan ini diungkapkan dalam baliho raksasa di mana diterakan, lengkap dengan tanda tangan masing-masing: para pastor paroki beserta DPP dan DKP serta ke 16 Ketua Wilayah, Panitia Natal 2019, WKRI dan Dirjen Sampah Limbah B3 Kementerian LHK. Di bawahnya diterakan logo dari berbagai lembaga, perusahaan yang mendukungnya.

Langkah berdasarkan iman Katolik

Semua gerakan dan tindakan itu kalau hanya karena disuruh-suruh, tidaklah akan berhasil. Tetapi kalau digerakkan dan didorong oleh suatu energi yang keluar dari hati, dari cara pandang baru, dari keyakinan iman akan Tuhan Mahabaik yang Menciptakan semuanya ini karena kasih sayangnya, dan semuanya itu demi kehidupan yang layak bagi ciptaan terluhurnya manusia, maka dapat diharapkan gerakan ini tidak hanya berlangsung sesaat, tetapi dapat diharapkan berlangsung lebih lestari.

Sampah, khususnya sampah plastik telah mengotori lingkungan hidup kita secara serius dan dampaknya sudah kita rasakan bersama.

Tuhan telah menciptakan segala sesuatu dengan baik. Setelah penciptaan Tuhan pun telah memeriksanya sekali lagi dan disimpulkan dalam kitab Kejadian 1:31 “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.”

Lingkungan hidup kita ini sebenarnya “sungguh amat baik”, tetapi kemudian dirusakkan oleh manusia, oleh kita, oleh saya. Marilah kita, saya, seka-rang mulai memperbaikinya: memilah sampah dengan baik, dan membu a-ngnya pada tempat yang baik pula.

Selamat memilah dan membuang sampah dengan baik, dengan berkat Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sangat baik. Untuk siapa? Untuk saya, untuk kita, untuk umat segenap manusia.

Depok 20 Desember 2019
Alfons S. Suhardi,OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 − ten =