Golden Rule

Yubiliano Bonaventura Nabu Pandu

Dalam suatu audiensi yang dilakukan di Amerika Serikat, Paus Fransiskus mengungkapkan mengenai Golden Rule.

Golden Rule merupakan suatu prinsip hidup yang mengandaikan bahwa setiap orang memperlakukan sesamanya sebagaimana yang diharapkan orang lain lakuakan padanya.

Misalnya jika kita berharap mendapat penghiburan dari orang lain, maka kita perlu memberikan penghiburan terlebih dahulu kepada orang lain.

Prinsip Golden Rule juga ditegaskan dalam bacaan-bacaan hari ini. Dalam bacaan pertama, Golden Rule dapat ditemukan dalam teks Sirakh 28:3 yang berbunyi demikian “Bagaimana gerangan orang dapat memohon penyembuhan pada Tuhan, jika ia menyimpan amarah kepada sesama manusia?”.

Teks ini menunjukkan bahwa sesungguhnya kita tidak layak memperoleh hal-hal baik dari Allah, apabila kita tidak mau melakukan hal-hal baik kepada orang lain. Selain itu teks ini pun menyatakan kaitan antara relasi kita dengan sesama dan dengan Allah.

Di hadapan Allah setiap umat manusia tidak boleh hidup untuk dirinya sendiri. Ini ditegaskan dalam bacaan kedua melalui kutipan ayat yang berbunyi demikian “Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri” (Roma 14:7).

Setiap orang tidak bisa hidup untuk dirinya sendiri. Alasan yang paling utama dan mendasar ialah karena manusia tidak sanggup untuk hidup sendiri. Biar bagaimanapun, ini telah diterima oleh seluruh umat manusia sebagai suatu kenyataan yang tak terhindarkan.

Barangkali kita tidak asing lagi dengan pepatah tua “No man is an island” yang mengungkapkan betapa tidak dimungkinkan manusia untuk hidup sendiri. Oleh karena itu, setiap orang harus menjalin relasi dengan sesamanya. Konsekuensinya, setiap orang tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri atau hidup untuk dirinya sendiri.

Selain itu, bagi kita umat katolik, relasi merupakan suatu sarana untuk mewujudkan iman kita secara lebih konkret. Atau dengan kata lain, melalui relasi, kesejatian diri kita sebagai umat Kristen semakin tampak.

Berkaitan dengan hal ini, St. Gregorius dari Nissa menegaskan bahwa kesejatian seseorang sebagai umat Kristen dapat dilihat dari tiga hal yakni perasaan, pemikiran dan perbuatannya.

Relasi bukan sekedar merupakan suatu tindakan atau perbuatan. Relasi juga memuat perasaan serta pandangan dan pemikiran kita tentang orang lain yang dengannya kita berelasi. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa dengan berelasi pemenuhan kesejatian kita sebagai umat Kristen dapat tercapai dengan lebih utuh. Ini hanya dapat terjadi jika kita berelasi dengan benar dan baik. Bagaimana berelasi yang baik dan benar itu?

Injil hari ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana berelasi dengan baik dan benar. Perumpamaan tentang seorang hamba yang mendapat belaskasihan dari rajanya, tetapi tidak mau mengasihani kawannya, mengajarkan kepada kita bahwa relasi yang baik dan benar ialah relasi yang penuh kasih.

Relasi yang penuh kasih itu tampak dalam sikap saling memaafkan atau mengampuni, saling memaklumi, tidak mendendam dan anti kekerasan. Singkatnya, relasi yang baik dan benar selalu mengantar manusia pada situasi damai.

Hamba yang digambarkan dalam bacaan injil hari ini tidak mampu mewujudkan hal itu. Ia terlalu egois. Ini tampak dalam sikapnya yang hanya mau memperoleh pengampunan untuk dirinya sendiri, tanpa mau mengampuni orang lain. Kita pun tidak luput dari sikap seperti ini. Kita cenderung lebih mudah menuntut hal baik untuk kita peroleh daripada memberikan hal baik kepada orang lain.

Padahal, Allah yang merupakan sumber kebaikan selalu mengharapkan kita untuk mau membagi-bagikan kasih dan kebaikan kepada sesama. Melalui bacaan injil hari ini kita diingatkan untuk tidak egois dan apatis terhadap sesama.

Yesus memberikan penegasan yang cukup keras mengenai hal ini dengan bersabda, “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Matius 18:35).

Demi mewujudkan pesan injil dan bacaan-bacaan pada hari ini, ada baiknya bagi kita mengaktualisasikan Golden Rule yang didengungkan oleh Paus Fransiskus. Marilah kita mencoba melakukan sesuatu yang baik kepada sesama sebagaimana yang kita harapkan untuk kita peroleh. Entah itu dengan memberi penghiburan, pengampunan, perhatian dan lain sebagainya.

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten − 8 =