Gereja St Paulus Depok Memanggil

PAROKI St Paulus Depok tumbuh sangat pesat, baik dari sisi jumlah umat maupun kegiatan-kegiatan seksi dan kategorial. Mulai dari  BIA, BIR, pendidikan agama untuk anak yang bersekolah di luar sekolah katolik, OMK, PSE, hingga Legio, dan SKK termasuk di dalamnya ME, Priskat, Wise Women.

Paroki kita juga telah memiliki Gedung Pusat Pastoral Yohanes Paulus II yang nyaman dan memadahi. Meskipun kadangkala masih terjadi penumpukan kegiatan di waktu yang bersamaan, khususnya di hari Minggu.

Dalam hal pelayanan Liturgi, yakni perayaan misa atau ibadat, juga terjadi perkembangan yang luar biasa, menjadi lima kali dalam sepekan (Sabtu dan Minggu), belum termasuk Novena Santo Antonius yang dilaksanakan setiap hari Selasa. Perayaan hari-hari besar, seringkali diselenggarakan secara bersamaan namun di dua tempat berbeda yakni  di  GSP maupun GYP. Dengan demikian, maka dibutuhkan penambahan petugas-petugas liturgi di antaranya  koor/tatib, misdinar, lektor/lektris, pemazmur dan prodiakon.

Prodiakon sebagai asisten imam, saat ini memang sangat dibutuhkan keberadaan dan perannya. Tugas dan fungsi prodiakon adalah  sebagai perpanjangan tangan Imam dalam melayani umat. Selain memiliki tugas pokok membantu Imam membagikan komuni bagi umat saat perayaan misa di dalam gereja, prodiakon juga punya tugas lain. Tugas tersebut di antaranya mewakili Imam (jika berhalangan hadir) dalam memimpin ibadat-ibadat sakramentali (selain Ekaristi) baik di lingkungan/wilayah seperti ibadat syukuran, midodareni, mitoni, ulang tahun, ibadat arwah maupun dalam memimpin ibadat pemakaman serta mengantar viaticum bagi umat yang sedang sakit baik di rumah, rumah sakit, dan panti.  

Saat ini Paroki St Paulus Depok memiliki 50 prodiakon. Dari 50 prodiakon, yang saat ini aktif melayani berjumlah 46 prodiakon, empat prodiakon berstatus non-aktif dengan berbagai penyebab. Jumlah tersebut tentu saja belum sebanding dengan banyaknya kegiatan liturgi yang harus dilayani. Oleh karena itu, Gereja St Paulus Depok membuka pendaftaran bagi calon prodiakon. Adapun persyaratan Calon Prodiakon yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:

  1. Laki-laki, usia minimal 35 (tiga puluh lima) tahun
  2. Sehat secara jasmani dan Rohani
  3. Katolik dan sudah menerima sakramen Inisiasi (Baptis, Komuni/Ekaristi dan Krisma/Penguatan)
  4. Sudah menikah secara resmi di Gereja Katolik dan tercatat di Catatan Sipil.
  5. Bersedia dan MAU menjalankan tugas pelayanannya dengan tulus dan penuh tanggung jawab
  6. Diusulkan oleh Ketua Lingkungan dan Ketua Wilayah (berdomisili di wilayah paroki St. Paulus Depok)

Pendaftaran dibuka mulai bulan Maret sampai Juli 2020 melalui ketua lingkungan/wilayah ataupun bisa juga melalui sekretariat paroki St. Paulus Depok. Menurut jadwal, pembekalan akan dilakukan pada bulan september hingga Oktober 2020, dan rencana perutusan oleh Bapa Uskup, bersamaan dengan kehadiran beliau dalam penerimaan Sakramen Krisma atau Penguatan bagi umat di paroki Santo Paulus Depok, Oktober mendatang.

Keputusan apakah calon prodiakon diterima atau tidak menjadi hak mutlak Romo Paroki St Paulus, Romo Agustinus Anton Widarto, OFM

 

“Hendaknya rekruitmen dilakukan dengan sungguh-sunggguh sehingga akan menghasilkan sosok prodiakon yang dapat melayani dengan tulus ikhlas dan tanpa pamrih, termasuk bersedia untuk bertugas di luar wilayahnya. Prodiakon adalah milik paroki, meski demikian jangan sampai meninggalkan tugasnya di lingkungan ataupun wilayah di mana ia bertempat tinggal atau domisili,” pesan  Romo Pendamping prodiakon, Romo Bartolomeus Jandu OFM.

“Oleh karena itu, seorang prodiakon hendaknya bisa diterima dengan baik oleh umat di lingkungan dan wilayah dia berdomisili, dan sebaliknya diharapkan umat memberi support kepada prodiakon tersebut agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Selain support dari umat, yang tak kalah penting adalah dukungan penuh dari keluarga sehingga yang bersangkutan  dapat menjalankan tugasnya dengan setia dan taat.  Sebagai kepala keluarga dia juga dapat menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab menjadi imam, nabi, dan raja yang baik bagi keluarganya,” imbuh Romo Berto. (RB76)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 3 =