Gereja Katolik Indonesia Kembali Memiliki Seorang Kardinal

Setelah puluhan tahun Indonesia  tidak memiliki Kardinal yang masuk dalam Dewan Kepausan untuk bersama Paus sebagai pimpinan Gereja Katolik tertinggi dunia dalam menata kehidupan Gereja sejagat, tanpa diduga pada Minggu, 1 September 2019, pukul 12.00, Paus Fransiskus mengumumkan 13 kardinal baru di Vatikan, salah satu diantaranya adalah Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo.

Tentu sudah banyak umat yang mendengar, membaca dan menyaksikan melalui media cetak, on line dan lektronik, namun alangkah baiknya dipublish ulang demi mempertegas dan memperjelas selain menginformasikan kepada mereka yang belum mengetahuinya. Karena bukan tidak mungkin kalau kebanyakan umat belum mengetahui peristiwa besar dan bersejarah ini.

Paus Fransiskus memilih Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo menjadi kardinal dinilai sebagai bentuk kepercayaan Vatikan terhadap Gereja di Indonesia yang turut terlibat merawat keberagaman. Sekalipun demikian, Suharyo mengatakan, dirinya sangat terkejut ketika mengetahui hal ini.

Suharyo menceritakan, dirinya tahu lebih lambat dari umat soal penunjukan dirinya sebagai kardinal. Ketika itu handphone-nya ramai berdering, namun tidak dia angkat karena tidak mengetahui nomor yang menelepon. Dia baru tahu ketika Duta Besar Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan Agus Sriyono menelepon dan memberi tahu. “Saya diberitahu bahwa saya ditunjuk oleh Paus Fransiskus menjadi kardinal. Tentu saya terkaget-kaget karena tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya. Berbeda ketika saya ditunjuk menjadi uskup, itu ada diskusi yang panjang. Diberitahu bahwa ditunjuk, kemudian diundang setuju atau tidak. Kalau setuju tidak ada diskusi, kalau tidak setuju lalu diskusi panjang. Waktu itu diskusi panjang, akhirnya saya setuju,” kata Suharyo dalam jumpa  pers di Gedung Karya Pastoral, Katedral Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Menjadi salah satu dari 13 kardinal yang baru, pengangkatan Ignatius Suharyo menjadi Kardinal akan digelar
dalam Consistorium alias Sidang Para Kardinal pada 5 Oktober 2019 di Vatikan. Mgr Ignatius Suharyo pun menjadi kardinal ketiga dari Indonesia. Pertama, alm. Justinus Kardinal Darmojuwono, dan kedua, Julius Kardinal Darmaatmadja. Menurut Suharyo yang juga uskup bagi TNI-Polri ini, memang demikianlah cara Vatikan mengangkat para hamba Tuhan. Bukan soal kekuasaan dan lain-lain, melainkan pelayanan yang
diharapkan makin luas.

Dari 13 kardinal baru yang diangkat, 3 orang di antaranya berusia lebih dari 80 tahun. “Silakan membayangkan orang 80 tahun. Itu artinya ketiga pribadi itu dihargai karena peranan mereka di dalam kehidupan gereja Katolik,” ucapnya. Lalu, lanjut Suharyo, 10 orang kardinal lainnya termasuk dirinya berusia di bawah 70 tahun. Tiga di antaranya adalah pejabat di Vatikan, dan tujuh orang lainnya adalah uskup seperti dirinya.

Terkait pemilihan kardinal ini, menurut pria kelahiran Sedayu, Yogyakarta tahun 1950 ini menunjukkan beberapa hal yang menarik menurut penafsiran pribadinya. Pertama, gereja Katolik ingin menunjukkan ke-Katolikannya. “Karena Katolik itu artinya umum, bukan apa-apa. Katolik itu artinya umum, universal. Kalau dulu, kardinal-kardinal itu kebanyakan dari Eropa dan dari negara-negara sebalah utara. Sekarang semakin jelas bahwa ada internasionalisasi dewan di Vatikan. Nanti jumlah bisa menunjukkan hal itu,” ucapnya.

Ucapan selamat atas terpilihnya MGR. Suharyo sebagai Kardinal ini muncul dari berbagai kalangan. Bukan cuma dari kalangan umat Katolik atau Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), tetapi juga dari perwakilan kaum Muslim seperti terlihat pada krans bunga yang ada.

Pdt. Gomar Gultom, M.Th. Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Uskup Agung Jakarta Monsignor Ignatius Suharyo yang baru saja dipilih menjadi Kardinal oleh Paus Fransiskus di Vatikan. Gomar yakin Suharyo selama ini telah menjadi Uskup yang sangat mengayomi umat Katolik. “Saya mengucapkan selamat, proficiat, atas pengangkatan Mgr Ignatius Suharyo menjadi Kardinal oleh Sri Paus, bersama 12 calon lainnya kemarin (1/9),” kata Gomar mengutip Antara, Senin (2/9).

Gomar mengaku kenal dengan Suharyo. Menurutnya, Suharyo adalah orang yang sangat rendah hati. Sikap itulah yang menjadi landasan Suharyo selama ini dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Uskup. Gomar mengatakan Suharyo juga memiliki perhatian yang sangat besar terhadap dunia pendidikan. Dia yakin Suharyo dapat menjalankan amanah menjadi Uskup Agung dengan sebaik-baiknya.

“Saya mengenal baik Mgr Suharyo dalam kapasitas beliau sebagai Uskup Agung Jakarta dan sebagai Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia. Beliau adalah sosok gembala yang sangat mengayomi, bukan saja atas umat Katolik yang menjadi umat gembalaannya, tetapi juga terhadap semua orang, tanpa sekat-sekat gereja dan agama,” ujar Gomar.

Bagi Gomar, kepercayaan Paus untuk memilih Suharyo sebagai Kardinal juga merupakan suatu kepercayaan Vatikan kepada Indonesia, sebagaimana pada kurun waktu sebelumnya. Dia berharap hubungan baik akan terus terjalin antara Vatikan dengan Indonesia. (*ber)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 + 11 =