Dimensi Kemanusiaan Kunci Pemersatu Keberagaman

Dalam rangka menjalin silaturahmi antar umat beragama se-Kota Depok, pastor paroki St. Paulus Depok, Pater Alforinus Gregorius Pontus, OFM (Rm. Goris) menyelenggarakan Open House Natal 2018 & Tahun Baru 2019 di Aula Gedung Pastoral Yohanes Paulus 2 pada Jumat, (04/01/ 2019).

Open House yang menghadirkan tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, pimpinan Ormas dan Pemerintahan Kota Depok seperti Ketua DPRD Kota Depok, Hendrik Silaban, Ketua Forum Pemuda Lintas Agama, Ustadz Badrudin sekaligus mewakili tokoh Muslim, Ketua Badan Sosial Lintas Agama, Mangaranap Sinaga selaku perwakilan Kristen Protestan, Ketua Gusdurian Kota Depok, Bang Mansur, Unsur Kepolisian ada Pak Thomas dari Brimob Kelapa Dua dan Pater Goris selaku inisiator dan tuan rumah sekaligus mewakili Rohaniawan Katolik.

Dalam sambutan pembukaan selaku tuan rumah sekaligus tokoh agama, Romo Goris lebih mengedepankan dimensi kemanusiaan universal yang dikaitkannya dengan perayaan Kelahiran Yesus, yaitu Allah menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara manusia demi menyelamatkan manusia tanpa batas dan sekat. Dimensi kemanusiaan menjadi fokus perhatian dalam kehidupan bersama di tengah keragaman ini, bukannya agama, kepercayaan atau suku tertentu.

“Saya sengaja tekankan itu, apalagi ini memasuki tahun politik jangan sampai kita malah terkotak-kotak karena hal-hal seperti itu. Hal-hal yang menurut saya kalau kita cukup mengenal agama masing-masing secara cukup matang dan dalam beragama maka tidak akan terjadi masalah apa-apa,” ujar Romo Goris.

Menurut Romo Goris perbedaan sudah pasti ada, tapi sesungguhnya kita tidak harus memulai dari sisi perbedaan itu, melainkan dari prinsip kemanusiaan. Sementara Ketua DPRD Hendrik  Tangke Allo mengatakan bahwa toleransi dalam kehidupan beragama di tengah keragaman harus dijalin melalui kegiatan
seperti acara Open House ini.

“Bagi saya kegiatan silaturahmi lintas agama seperti ini, lintas tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda serta ormas keagamaan ini menjadi bagian penting ketika kita merajut semangat kebangsaan di Kota Depok. Ini menjadi contoh bagi saudara-saudara dan sahabat-sahabat kita di luar sana, bahwa jangan melihat apapun perbedaan di Kota Depok ini sehingga menjadi dinding penyekat di antara kita. Bagi saya justru perbedaan yang ada seperti ini, perbedaan agama, suku bisa menjadi kekuatan bagi kita semuanya,”  jelas Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Depok periode 2010-2015 dan periode 2015-2020 ini.

Ketua DPRD pun berharap mudah-mudahan acara silaturahmi seperti ini bisa berlanjut. Pihaknya sangat mengapresiasi dan bersyukur atas kegiatan yang diinisisasi Romo Goris di awal tahun ini. Baginya acara tersebut menjadi suatu awal yang baik buat sebuah keberagaman.

Senada dengan pandagan Ketua DPRD, Ustadz Badrudin menyampaikan rasa prihatin dan sedih karena ada sebuah survei yang manyatakan tingkat toleransi di Kota Depok menempati urutan 5 besar dari bawah. Padahal menurut dia, kondisi intoleransi seperti itu tidak muncul dari masyarakat Kota Depok apalagi para penyelanggara pemerintahan seperti yang dituduhkan banyak kalangan, melainkan muncul dari luar entah perorangan atau secara organisatoris yang sengaja mengadu domba masyarakat agar terusik kedamaian dan kenyamanannya.

Anggota DPRD Komisi D Kota Depok, Agustina Simanjuntak mengatakan, soal tingkat intoleransi di Kota Depok yang menurut survey menempati urutan ke-5, kelihatannya sudah mulai terkikis. Buktinya bahwa Ketua DPRD dari kalangan non muslim saja bisa diterima sampai hari ini.

“Apalagi dengan adanya acara Open House hari ini, sungguh memperlihatkan bahwa di Depok ini kerukunan dan perdamaiannya kuat,” tuturnya. Demikian pula Heru Purnomo, Caleg DPRD Provinsi dari Partai Perindo menilai bahwa toleransi dan keamanan semakin baik dan akan semakin meningkat jika adanya keberagaman ini dikelolah secara baik oleh Pemerintah Kota Depok.

“Kalau saya lihat akan semakin maju karena adanya keberagaman dan kemajemukan itu dikelola secara  baik oleh pemerintah Kota Depok. Kalau memang itu pengelolahnya tidak berubah, tapi kalau pejabatnya berubah ya akan menimbulkan konflik iternal dan yang lainnya, tapi saya yakin tidak,” ujar Heru. (ber)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 5 =