Dia Yang Penuh Rahmat

MARIA DIANGKAT KE SURGA
Minggu Biasa XIX (2018)

DIA YANG PENUH RAHMAT

Hari Raya Maria Diangkat ke Surga resminya dirayakan pada tanggal 15 Agustus. Tetapi di Indonesia, KWI memutuskan untuk merayakannya pada hari Minggu yang terdekat, supaya segenap umat Katolik dapat merayakannya dengan sepatutnya. Pada hari-hari biasa kita akan terhalang oleh kesibukan pekerjaan kita yang tidak dapat kita tinggalkan.

Dalam Gereja Katolik penghormatan istimewa pada Bunda Maria sudah berkembang sejak permulaan Gereja. Maria adalah manusia biasa, tapi bunda Yesus Kristus, sang Penebus, sang Mesias, Putera Allah, Yesus yang adalah sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah! Kenyataan ini saja sudah cukup untuk memberikan penghormatan istimewa kepadanya.

Kemudian muncullah macam-macam persoalan yang harus memperoleh keterangan yang benar. Misalnya: Maria itu ibunya Yesus. Benar. Tetapi Yesus itu kan Allah dan manusia. Jadi, Maria itu ibu Yesus sebagai manusia atau sebagai Allah, atau keduanya: sebagai Allah dan sebagai manusia? Dan macam-macam masalah lain lagi yang bukan tempatnya diuraikan di sini.

Bagaimanapun umat Katolik sejak semula memberikan hormat yang besar kepada Maria. Karena itu Gereja perlu memberikan pengajaran yang pasti, supaya apa yang sudah dihayati oleh umat itu memperoleh pegangan yang kokoh. Berikut ini ajaran-ajaran yang sudah dirumuskan dan dibakukan oleh Gereja sebagai kebenaran iman yang kemudian disebut dengan dogma. Ini berdasarkan wewenang yang diberikan oleh Yesus sendiri melalui para Rasul (lihat Mat 16:19). Hendaknya harus selalu diingat bila kita bicara tentang dogma. Dogma memberi peneguhan dan pandasaran yang benar dan pasti atas apa yang sudah lama dihayati dan diimani oleh umat.

Ada empat kebenaran dogma perihal Maria:

  1. 1. Maria tetap Perawan
  2. Maria Bunda Allah, Teothokos: melahirkan Yesus Tuhan dan manusia
  3. Maria dikandung tanpa noda dosa (1854). Kemudian diperteguh dengan penampakan Bunda Maria di Lourdes pada 1858 dan di sana Maria berkata: “Aku yang dikandung tanpa noda”
  4. Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya (1950) sekitar seratus tahun sesudah dogma Maria yang dikandung tanpa noda dosa.

Sekarang kita merayakan yang terakhir ini: Maria diangkat ke surga dengan mulia: jiwa dan raganya. Mungkinkah? Kalau dikatakan “Jiwanya” kita dengan mudah dapat menerimanya. Tetapi “dengan tubuh manusiawinya”? Tidak mudah. Walau sebenarnya, asal muasalnya: memang di sanalah tempat manusia seutuhnya itu: mulia bersama Allah sebagai manusia 100%, dengan jiwa dan raganya. Kok bisa?

Ingat siapa manusia itu sebenarnya. Yakni waktu diciptakan; manusia seperti yang direncanakan oleh Tuhan sang pencipta itu sendiri. Kita manusia ini adalah ciptaan yang paling luhur: “gambaran dan rupa Allah”. Kitab Kejadian 1:26 berkata “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,…’” Manusia yang adalah gambaran Allah ini, karena itu, tinggal bersama Allah dalam Taman Eden, suatu istilah yang menggambarkan surga, “tempat tinggal” Allah itu sendiri. Demikianlah manusia yang asali. Tanpa dosa, tanpa cela, kudus, tinggal bersama Allah dalam kemuliaan.

Tetapi manusia memberontak, berdosa, dan diusir dari Taman Eden itu. Artinya: tidak bisa lagi tinggal bersama Allah. Tetapi bahwa manusia itu adalah gambaran Allah tidak dibatalkan oleh Allah. Karena Dosa gambaran itu sudah rusak. Yesus diutus dan datang untuk memberi jalan kepada manusia supaya bisa kembali memulihkan gambaran yang sudah rusak karena dosa itu. Inlah apa yang dinamakan Penebusan dosa yang diberikan oleh Yesus melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Ada bukti “tubuh yang mulia tanpa dosa” itu? Ada. Ini kita rayakan pada tanggal 6 Agustus: “Yesus menampakkan kemuliaan-Nya” Yesus  tidak sekedar pamer, mendemonstrasikan kemuliaan-Nya. Yesus mau menunjukkan kepada kita melalui Petrus, Yohanes dan Yakobur: “lihat hai manusia, kalau engkau hidup suci tak bercela seperti yang dicita-citakan oleh Bapa di surga, engkau pun seperti saya ini: mulia. Untuk itulah saya datang.” (bdk. Mat 17:5) Mateus misalnya, tidak bisa melukiskannya, dia hanya bisa berkata: “wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang” (Mat 17:2) Tubuh Yesus yang sempurna ini berkali-kali muncul di tengah para Rasul sesudah kebangkitan-Nya.

Jadi, Maria, manusia biasa, yang adalah Bunda Jesus, sang Mesias, Bunda Allah, Tetap Perawan, yang tanpa noda sejak permulaan hayatnya, berkat penebusan Yesus Kristus, sudah kembali suci seperti yang dicita-citakan Allah sang Pencipta: penuh rahmmat, gambaran Allah yang sempurna. Layak dan pantas tinggal bersama dengan Allah dalam kemuliaannya.

Maria inlah yang kita rayakan hari ini. Maria yang adalah manusia biasa, tapi tanpa noda, mulia diangkat ke surga; memang, surga, bersama Allah: Bapa, Putera dan Roh Kudus, menjadi tempat asali dari Maria itu sendiri. Juga bagi kita, asalkan kita hidup dengan baik meniru bunda Maria.

Saudara-saudara terkasih,

Karena itu pun, sampai sekarang orang tidak tahu kapan Maria meninggal dunia, dan di mana dimakamkan. Tidak ada.

Di Turki ada sebuah kampung bernama Efesus. Di sana ada sebuah rumah sederhana yang menurut penduduk setempat merupakan bekas rumah Maria.

Di mana dimakamkan? Mereka tidak tahu.

Kita tahu: Maria diangkat ke surga oleh Allah, dalam kemuliaan. Peristiwa ini kita rayakan hari ini.

Bunda Maria, bantulah kami mengikuti jejakmu.

Alfons S. Suhardi, OFM

Berita dan Artikel Lainnya