Corona yang Membawa Berkah

Kita memasuki Pekan Suci, secara liturgis pekan yang paling penting dalam sepanjang tahun liturgis kita. Dalam kemuliaan-Nya yang kita rayakan pada Minggu Palma ini, dalam cinta kasih-Nya yang tak terbatas yang kita rayakan pada Hari Kamis Putih nanti, dalam sengsara dan wafatnya yang kita peringati pada hari Jumat Agung dan akhirnya dalam Kebangkitan-Nya yang kita rayakan secara meriah pada hari Minggu Paskah …. Melalui semua peristiwa itu Tuhan memperlihatkan cintakasih-Nya yang tak terbatas pada kita, manusia yang lemah dan berdosa ini. Selama Pekan ini kita rayakan bersama puncak karya Yesus Kristus di dunia ini: Yesus menebus umat manusia dengan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Pekan Suci tahun ini sungguh sangat istimewa: tidak ada perayaan di gereja, dan tidak ada kebersamaan. Dan ini terjadi di seluruh dunia. Gereja-gereja di seluruh dunia dalam keadaan sepi, tanpa hadirnya umat Allah. Memang ada perayaan, tetapi tidak disertai hadirnya umat. Umat diminta harus tetap tinggal di rumah, mengikuti semua perayaan itu melalui TV atau alat komunikasi yang lain.

Saudara-saudara terkasih,

Seluruh dunia dilanda wabah virus ganas Corona. Dalam waktu singkat satu juta orang sudah terkena Covid 19 ini, dan sekian ratus yang meninggal dunia. Yang meninggal dunia karena Covid 19 ini tidak boleh didekati, didoakan secara dekat, dibakar dengan upacara yang sangat sederhana, bahkan nyaris tanpa upacara apa pun. Seolah-olah kurban virus ini harus menghadap Tuhan sendirian.

Corona ini memang telah memutarbalikkan segala tata hidup dunia kita, semua orang tanpa kecuali. Sekarang bersatu padu tidak memperkuat kita tetapi justru melemahkan kita, kita bisa sakit dan mati. Supaya selamat kita harus menjauhkan diri dari sesama. Sesama lalu dipandang sebagai bahaya, atau dapat juga: orang harus memandang diri sendiri sebagai bahaya penular bagi orang lain. Karena itu harus saling berjauhan. Orang tidak mudik, mendekatkan diri pada sanak saudara yang lama ditinggalkan, tidak lagi dipandang sebagai kelakuan yang tidak menunjukkan cinta pada sanak saudara, sebaliknya menjauhkan diri dianggap sebagai tanda cinta, karena tidak membahayakan sanak saudara itu. Dengan demikian kita tidak bisa saling bertemu, saling mendukung dalam merayakan perayaan pesta besar iman kita ini, bukanlah sebagai tanda permutadan, tanda tidak suka pada orang  lain, justru sebaliknya, sebagai tanda sayang kita pada sesama umat.

Bahwa kita tidak bisa berkumpul bersama dalam gereja, bukanlah tanda perpisahan atau perceraian kita. Tetapi tanda kita saling “care” saling peduli, demi keberlangsungan hidup kita yang sehat.

Sepertinya Tuhan berkata kepada kita: “Biasanya kamu datang ke gereja mencari Saya, mau bertemu dengan Saya, sekarang Saya sendiri mendatangi kamu semua di rumah kamu masing-masing.

Dan sungguh kedatangan Tuhan di rumah kita masing-masing memang sangat dirasakan: orang mulai berdoa bersama dengan seluruh anggota keluarga, orang mulai lagi bersama-sama makan di meja makan, menikmati hasil masak orang tua mereka. Anak-anak bisa dengan leluasa merasakan pangkuan ayahnya, yang sebelumnya selalu pulang ketika si anak sudah tidur pulas dan ditinggalkan juga ketika anak-anak itu masih pulas tertidur. Ada yang tercetus, “sudah sekian lama kami berkeluarga, baru sekarang kami berdoa rosario bersama. Kok bisa ya?” ungkapnya “sampai saya menitikkan air mata” katanya selanjutnya. Orang lain berucap: “Saya belum pernah merasakan kerinduan yang sedemikian besar untuk mengikuti Ekaristi dan menyambut Tubuh Kristus. Belum pernah.” Yang lain curhat “Saya mengikuti Misa secara online, kok aneh, saya terharu, dan meneteskan air mata” diteruskannya “Tuhan, kapan Corona ini pergi?”

Saudara-saudara terkasih.

Tuhan berkarya secara menakjubkan. Apa yang jelek bisa diubah menjadi sesuatu yang manis. Corona memang menakutkan, tetapi efeknya pada penghayatan iman kita, harus dikatakan “luar biasa”.

Semoga efek luar biasa ini, antara lain: kedekatan hati antar anggota keluarga, semangat untuk berdoa menyerahkan diri pada Tuhan, menghayati dan menyadari bahwa manusia itu sungguh lemah, kerinduan untuk berdekatan dengan Tuhan, kerinduan untuk bersama umat lain merayakan Ekaristi dan menyambut Tubuh Kristus, semua itu tidak segera menguap dan mati sesudah berhentinya wabah Covid 19 ini.

Marilah kita bersama Sri Paus, para Uskup, imam dan segenap umat beriman berdoa demi keselamatan umat manusia selama Pekan suci ini.

 

RP. Alfons S. Suhardi, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × two =