Biarkanlah Keduanya Tumbuh Bersama Sampai Waktu Menuai

Sdr Yusuf Raditya Prima R OFM

SETELAH beberapa minggu benih padi ditanam di sawah, mulai muncullah di sela-sela padi itu rumput-rumput liar.

Kalau rumput-rumput sudah mulai tumbuh agak besar, petani pemilik sawah akan mulai menyiangi/membersihkannya.

Tujuannya sederhana, yaitu agar tidak mengganggu pertumbuhan padi.

Rumput yang dibiarkan tumbuh di antara padi akan merebut nutrisi, baik dari tanah maupun dari pupuk yang ditabur di sana.

Karenanya, penting untuk membersihkan rumput-rumput liar di antara tanaman padi. Inilah ritme yang normal dari proses penanaman dan pemeliharaan padi di sawah yang dapat kita temui di Indonesia.

Tidaklah demikian dengan lalang yang tumbuh di antara gandum. Dalam perikop Injil hari ini, pemilik ladang rupanya tidak menghendaki para pekerja segera membersihkan lalang-lalang itu. Ia justru menyuruh mereka untuk menunggu waktu menuai tiba, sembari membiarkan kedua tanaman itu tumbuh bersama.

Hal ini cukup logis menurut alasan yang dinyatakan oleh pemilik ladang, yaitu supaya gandum-gandum tidak ikut tercabut. Barulah ketika nanti waktu menuai tiba, dengan jelas dapat dipisahkan antara gandum dengan lalang.

Dunia dan kehidupan ini ialah ladang. Pemilik ladang itu ialah Allah. Allah tidak mau cepat-cepat menyingkirkan lalang karena ia tidak mau kehilangan satu pun gandum yang ada di ladang-Nya. Ia tidak merasa rugi jika lalang-lalang itu hidup bersama gandum, karena Ia lebih tidak ingin kehilangan gandum-Nya. Ia bijaksana, dengan memilih waktu menuai sebagai saat yang tepat untuk memilah gandum-gandum-Nya dari lalang.

Perumpamaan tentang lalang di antara gandum ini mau menunjukkan betapa besarnya cinta Allah kepada manusia. Ia sangat mencintai orang-orang yang baik, tetapi juga sabar terhadap orang-orang yang jahat. Lalang yang dibiarkan tumbuh bersama gandum menunjukkan kepada kita bahwa Ia memberi rahmat kehidupan yang sama bagi semua orang.

Dalam perikop lain kita melihat bahwa kepada orang baik maupun jahat, Allah memberikan matahari maupun juga hujan. Ini bukan berarti tidak apa-apa menjadi orang jahat, tetapi maksudnya ialah bahwa Tuhan selalu memberi kesempatan. Kesempatan itu diberikannya kepada orang-orang jahat untuk bertobat dan memperbaiki diri.

Hal terakhir yang perlu kita catat adalah bahwa ada hari di mana waktu menuai tiba. Waktu menuai itu ialah akhir zaman, di mana Allah akan menghakimi setiap orang menurut perbuatan mereka. Kita tidak tahu kapan akhir zaman itu tiba, atau kapan akhir hidup kita masing-masing tiba. Selama kita masih hidup di dunia, kita diundang dan selalu diundang oleh Tuhan untuk menjadi orang-orang baik, menjadi gandum-Nya yang berharga.

Kita pun juga selalu diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertobat ketika kita berbuat dosa. Semoga bacaan Injil hari ini semakin menyadarkan kita akan besarnya cintakasih Allah bagi kita, dan mendorong kita untuk senantiasa berbuat baik dalam kehidupan ini.

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 + 14 =