Bersatu dengan Kristus

HARI ini gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Perayaan ini mengingatkan kita akan hakikat dari Ekaristi yang kita sebut sebagai sumber dan puncak hidup beriman.

Dalam Ekaristi, kita menerima Tubuh dan Darah Yesus Kristus dalam bentuk hosti dan anggur. Hosti dan anggur yang kita sambut bukan lagi roti dan anggur biasa, tetapi sungguh-sungguh telah diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

 Dalam injil Yesus mengatakan bahwa “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Dan roti yang Kuberikan ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia”. Patutlah kita bersyukur dan berbahagia karena roti yang kita santap ialah roti dari surga. Roti itu ialah bukti perendahan diri Allah, di mana Ia yang dari surga rela memberikan diri-Nya untuk kehidupan dunia.

Mengenai hal ini St Yohanes Maria Vianney juga mengatakan bahwa “segala pekerjaan baik digabung menjadi satu masih tidak sebanding nilainya dengan Kurban Kudus Misa, sebab segala pekerjaan baik itu adalah karya manusia, sementara Misa Kudus adalah karya Allah. Kemartiran tak ada artinya dibandingkan dengan Kurban Misa; kemartiran adalah kurban manusia atas hidupnya bagi Tuhan.

Sedangkan Misa adalah kurban Allah yang menjadi manusia atas Tubuh-Nya dan Darah-Nya”. Dengan demikian, kita semua tahu bahwa begitu besar cinta Allah kepada kita. Ia senantiasa memberikan jalan keselamatan bagi jiwa kita.

            Tubuh dan Darah Kristus yang kita sambut ialah santapan jiwa untuk kehidupan yang kekal. Dengan menyantap Tubuh dan Darah Kistus, kita menjadi satu tubuh dengan-Nya,  sebagaimana telah Ia katakan dalam injil “ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”. Pada akhir zaman, Tubuh Yesus akan menembusi tubuh kita dan Darah Yesus akan bersinar menembusi darah kita, jiwa kita akan dipersatukan dengan Tuhan dan kita akan mendapatkan sukacita abadi di surga.

            Selain itu, menyambut Tubuh dan Darah Kristus bukan hanya mempersatukan diri kita dengan Kristus, tetapi juga dengan sesama. Tubuh Kristus itu satu. Bila kita menyambut Tubuh Kristus yang satu, maka kita walaupun banyak tetap merupakan satu tubuh. Walaupun dalam ekaristi kita menyambut tubuh Kristus secara masing-masing, namun itu tetap satu tubuh, yakni Tubuh Kristus. Maka dari itu, kita perlu menjaga kesatuan dalam hidup Gereja.

Kita semua adalah bagian dari Tubuh Kristus, maka kita mesti menjadi penampakan nyata dari Yesus Kristus. Setiap umat beriman dipanggil untuk meneladani Kristus yang telah memberikan dirinya kepada dunia.

            Di masa pandemi Covid-19 ini, ada dua hal yang dapat kita maknai di Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Pertama, kita semakin sadar akan pentingnya mengarahkan diri pada Allah. Kita semua tahu bahwa pandemi Covid-19 membuat kita tidak secara langsung menerima atau menyambut tubuh dan darah Kristus.

Akan tetapi, kita masih bisa mengikuti perayaan ekaristi secara virtual dan melakukan komuni batin. St. Yohanes Maria Vianney mengatakan bahwa “jika kita tidak dapat menerima Komuni Sakramental, baiklah kita menggantinya, sejauh yang dapat kita lakukan, dengan komuni batin. Sebab sepatutnyalah kita senantiasa memiliki kerinduan yang berkobar-kobar untuk menerima Allah yang baik.

Komuni bagi jiwa adalah bagaikan meniup suatu nyala api yang mulai menyala, namun masih memiliki banyak bara yang panas; kita tiup, dan api membara lagi. Apabila kita tak dapat datang ke gereja, marilah kita mengarahkan diri ke tabernakel: tembok tak akan dapat memisahkan kita dari Allah yang baik”. dengan demikian, hal yang perlu kita buat sekarang ialah tetap menyalakan api kerinduan kita akan Allah dan tetap mengembangkan iman kita kepada Allah yang hadir dalam tubuh dan darah Kristus.

            Kedua, kita diajak untuk memberikan diri kita kepada dunia dalam bentuk berbagi dengan orang yang miskin dan menderita. Akibat dari pandemi Covid-19, kita dapat menyaksikan banyak orang yang miskin dan menderita. Sebagai penampakan diri Yesus di dunia ini, kita perlu meneladani diri Yesus yang memberikan diri-Nya kepada dunia dengan membantu sesama yang menderita.

Kita telah bersukacita karena Yesus telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai jalan menuju keselamatan. Sudah sepatutnyalah kita membagikan sukacita itu kepada orang-orang miskin dan menderita. Kita patut bersyukur sebab Allah senantiasa memperhatikan kita orang yang berdosa dengan mengorbankan Putera terkasih-Nya.

Maka, kita pun sebagai orang-orang yang dikasihi Allah juga senantiasa mau memperhatikan orang yang miskin dan menderita sebab kita semua berasal dari Allah yang sama. (Paulus Yanuario Musrilan OFM)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 + five =