Asal Kujamah Saja JubahNya

“Kenapa harus dia?” tanyaku tak mengerti.
“Dia masih sangat muda.”
Lelaki itu bergeming, tetap menatap ke kejauhan. Sorot mata-Nya yang dalam tak terselami. Sesekali tangan-Nya terulur untuk membenahi kain ungu yang tersampir di bahu-Nya. Kebisuan merayapi komplek pemakaman ini. Semakin terasa mencekat ketika harum pandan, mawar dan melati menguar bersama aroma kamboja yang pekat diselingi isak tangis para pelayat.

“Kau tahu apa yang menarik dari kematian?” tanya-Nya pelan.
“Karena datangnya yang tak terduga?”
“Hanya itu?”
“Tak terduga … dan tak dapat ditolak.”
“Hanya itu?”
Dahiku mengernyit, berusaha memahami kemana arah pembicaraan kami.
“Kau tahu, kadangkala hanya kematian yang mampu membuka berbagai rahasia kehidupan, tentang cinta dan saling memaafkan.”

“O iya?” tanyaku skeptis seperti biasanya.
“Kau lihat para pelayat itu, bagaimana mereka menangisi yang telah pergi?”
“Kesedihan adalah emosi yang kuat,” jawabku singkat.
“Selalu ada seseorang yang menangis lebih keras daripada yang lain, Nak, dan berduka lebih dalam daripada yang lain juga. Biasanya karena mereka sangat mencintai yang meninggal, tapi bisa jadi karena tak mendapat kesempatan untuk minta dimaafkan.”
“Hingga semuanya telah terlambat,” sambungku, membayangkan orang-orang yang masih diliputi kemarahan lalu begitu saja ditinggalkan.

“Kau tahu, kan, hati manusia tak seputih hati-Mu?” tanyaku mencari pembenaran.
“Manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah, kau lupa itu?”
“Aku tak lupa, tapi menurutku memaafkan kesalahan orang lain itu tak semudah kedengarannya. Kau mampu mengampuni karena Kau Mahasegalanya.”
“Kau juga mampu kalau kau mau. Kau, kan, diciptakan seperti Aku.” Ia menoleh lalu tersenyum lembut kepadaku, membuatku merasa malu.

“Kau tak ingin merasakan kesedihan itu, kan, sewaktu segalanya telah terlambat?”
“Tidak. Itu akan sangat menyakitkan.”
“Terlebih bila yang pergi adalah orang yang kau cintai.”
Kami kembali diam, mengamati wajah demi wajah bersimbah air mata yang mulai mendaraskan doa-doa. Pelukan demi pelukan diberikan namun tak mampu melenyapkan awan kepedihan yang menggantung di udara.

“Tapi kenapa harus dia?”
“Kenapa harus Aku?”
Pandanganku tertumbuk pada secarik kain ungu yang melambai tertiup angin sepoi. Aku teringat kisah seorang lelaki muda yang didera dan disiksa hingga tak bernyawa di bukit Golgota, padahal Ia tak melakukan kesalahan apa-apa.
“Karena Engkau mencintai umat-Mu?”
“Dan karena Aku mengampuni kesalahanmu, Nak, maka Aku mau menjadi kurban silih bagi dosa-dosamu.”
“Agar aku juga mengikuti teladan-Mu untuk belajar mencintai, mengampuni dan memaafkan kesalahan. Begitu, kan?”
“Akhirnya kau mengerti,” kata-Nya sambil tersenyum sekali lagi.

 

Merenungi cinta-Nya, 18 Maret 2019.
oleh : Ayu Krisdias

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 + fourteen =