Antisipasi Penularan Lewat Udara, Seluruh Misa Menggunakan Nyanyian Rekaman

MENYUSUL penjelasan terbaru WHO terkait berbagai studi yang menunjukkan adanya penularan Covid-19 melalui udara (airbone), Paroki Santo Paulus Depok memutuskan meniadakan paduan suara untuk semua jadwal misa di masa New Normal. Nyanyian liturgi akan digantikan dengan rekaman yang dipersiapkan seksi liturgi.

“Demi mengantisipasi perkembangan terbaru dari indikasi medium penyebaran Covid-19, koor untuk semua misa sementara digantikan dengan rekaman lagu,” ujar Pastor Paroki Gereja Katolik Santo Paulus Depok Pater Agustinus Anton Widarto, OFM.

Dalam pernyataan resminya, WHO mendefinisikan penularan melalui udara sebagai penyebaran agen penular yang disebabkan oleh penyebaran aerosol yang melayang di udara dalam jarak dan waktu yang lama.

Aerosol adalah tetesan pernapasan yang sangat kecil sehingga dapat menempel di udara. Penyebaran melalui udara dapat terjadi saat petugas medis terlibat dalam prosedur tertentu yang menghasilkan aerosol dan semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa ruangan tertutup dengan ventilasi buruk, virus dapat melayang tinggi selama berjam-jam dan menginfeksi orang lain.

Tempat tertutup yang bisa menjadi tempat penularan Covid-19 di udara antara lain restoran, klub malam, tempat ibadah, tempat kerja, atau tempat-tempat lain di mana orang berteriak, berbicara, dan bernyanyi. (Baca selengkapnya: https://www.who.int/publications/i/item/modes-of-transmission-of-virus-causing-covid-19-implications-for-ipc-precaution-recommendations)

Sterilisasi Geraja St Paulus Depok

Pernyataan WHO tersebut diperkuat oleh imbauan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) yang menyatakan, beberapa kejadian luar biasa berkaitan dengan ruang tertutup/indoor yang padat, kemungkinan terdapat transmisi secara aerosol atau airbone, kombinasi dengan transmisi droplet, contohnya seperti pada acara paduan suara, restaurant, atau kelas fitness.

Pater Anton menegaskan, berkaitan dengan pernyataan WHO tersebut, selain layanan paduan suara untuk sementara dihentikan, mitigasi yang sudah dan terus dilakukan gereja adalah mengimbau agar umat tidak boleh melepaskan masker selama misa New Normal berlangsung. Di samping itu, semua pintu dan jendela dibiarkan terbuka sehingga memungkinkan sirkulasi udara yang cukup dan untuk sementara ruangan gereja tidak menggunakan AC.

“Petugas kebersihan gereja juga langsung membersihkan tempat duduk dan tempat berlutut umat dengan menggunakan cairan desinfektan setelah misa selesai dirayakan, seperti yang sudah terjadi pada misa pekan lalu,” katanya.

Pater Anton menambahkan, ketaatan dan kedisiplinan semua pihak menjadi kunci agar misa di masa New Normal ini dapat berjalan lancar, aman, dan nyaman. Umat yang tidak dalam kondisi sehat dan memiliki halangan kesehatan, tidak memenuhi kriteria protokol Covid-19, dan yang memiliki intensitas aktivitas yang tinggi di tempat-tempat umum sebaiknya menunda dulu untuk merayakan misa di gereja.(AY)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 + 18 =