AMORIS LAETITIA & BAHTERA OLENG Serial Pastoral Berbasis Data bersama Eja Puris & Lae Bang (1)

Menjelang Pekan Suci, Paus Fransiskus membuka Tahun Keluarga Amoris Laetitia, tepat dalam naungan Pesta St. Yosep 19 Maret 2021.

Dengan taklimat ini, Gereja Katolik memulai tahun khusus yang didedikasikan untuk memperdalam jangkauan pastoral keluarga berdasarkan Amoris Laetitia.

Tiga minggu sebelumnya, ada acara kecil….terpaut jarak 10.834 km antara Vatikan dan Depok Lama (jika dibayangkan…, ini setara dengan 29 ribu kali mengelilingi lapangan sepak bola standar FIFA laga internasional).

Hari itu, Sabtu 27 Februari, Dewan Pastoral Keuskupan Bogor mensosialisasikan Road Map II Keuskupan 2021-2030 di hadapan para gembala dan perwakilan umat Paroki St. Paulus Depok.

Selain dokumen hasil sinode II keuskupan 2019, temu online tersebut juga mengulas data profil umat St. Paulus Depok.

Sekretaris Keuskupan Bogor RD Marselinus Wisnu Wardana mencuatkan nafas pastoral berbasis data dengan mendorong umat paroki kita untuk,”…memanfaatkan data sebagai referensi menentukan aneka bentuk pastoral transformatif yang mampu menjawab tepat kebutuhan umat.”

Nah, dalam ruang jeda tafakur Tri Hari Suci, kita berkesempatan menarik simpul-simpul inspirasi dua peristiwa gerejawi tersebut. Misal, bagaimana kita memastikan jemari-jemari rahmat Amoris Laetitia dapat menjawab kebutuhan umat?

Apa saja bentuk pastoral transformatif berdasar data agar mampu menyapa-merangkul sesama keluarga kita yang tengah oleng oleh badai pertikaian, terseret arus pandemi, atau karam ekonomi?

Percakapan imajiner antar-karib berbasis data berikut tidak untuk menuntaskan akar jawaban. 

Muara tujuannya justru untuk memantik kita ke gelombang diskusi lebih terang dan matang, menjalar di ruang-ruang daring pertemuan umat ataupun obrolan sore satu-dua cangkir teh sari akrab suami-istri.

Eja Puris (EP): Kita ngomongin Amoris Laetitia. Barang apa ini, Lae? 

Lae Bang (LB): Singkatnya, Amoris Laetitia yang berartiSuka Cita Kasih” adalah seruan apostolik Paus Fransiskus yang ditandatangani beliau pada 19 Maret 2016 dan diterbitkan 8 April 2016. 

 EP: Mengapa penting bagi pastoral keluarga?

LB: Ya, penting dan solutif. Ini salah satu dokumen terpanjang dalam sejarah kepausan: 255 halaman, 325 paragraf.

Inilah buah pikiran, rangkuman, sekaligus keputusan dari dua Sinode Para Uskup Sedunia tentang keluarga yang digelar berkesinambungan di Vatikan pada 2014 dan 2015.

Dua sinode ini menggumuli berbagai topik sensitif problematika keluarga dan perkawinan. Misal, sikap Gereja atas pernikahan pasangan yang bercerai lalu menikah lagi, peran perempuan, dan kaum awam dalam Gereja.

Berdasarkan pertimbangan dua sinode itu, Amoris Laetitia diyakini sebagai solusi realistis atas tantangan dan aneka masalah keluarga.

EP: apa inti ketegasan Paus di dokumen itu?

LB: Wah, pertanyaan bagus. Bapa Fransiskus terang benderang menyatakan pelayan pastoral harus setia mendampingi dan mengarahkan umat agar bertumbuh lebih baik.

Cara yang ia tawarkan adalah pastoral kehadiran dan sikap welas asih dalam pelayanan.

Sementara tentang pernikahan dan keluarga, Paus bersikap tegas dan teguh berpijak pada hukum serta norma fundamental Gereja. Ia juga mendesak, keluarga perlu membangun ikatan kasih sayang nan kokoh di antara sesama anggota keluarga.

Tujuannya, tiada pertikaian dalam keluarga. Demikian pula ketegasannya pada pernikahan sesama jenis. Paus memastikan, Gereja Katolik hanya mengakui pernikahan laki-laki dan perempuan.

“Tak ada dasar dalam rencana Tuhan bagi pernikahan sesama jenis.”

EP: Kita bicara makin konkret nih. Lae kan tahu wajah data keluarga paroki kita yang disarikan dari data Sistem Informasi Umat (Siformat) oleh Dewan Pastoral Keuskupan Bogor dalam temu tempo lalu.

Bagaimana menghubungkan data tersebut dengan Amoris Laetitia

LB: Pertama, data dapat berbicara hal-hal menarik. Kita dapat mengetahui dari total jumlah keluarga di paroki kita (Grafik 1), ternyata usia perkawinan didominasi rentang 16-20 tahun (42%), dan 6-15 tahun (30%).

Sementara sisanya, 28% terdiri dari usia pernikahan 31-50 tahun (19%), 1-5 tahun (6%), dan di atas 50 tahun (3%).

Kedua, akan banyak analisis bersliweran. Kita perlu pilih. Analisis terbaik niscaya membantu kita dalam penyusunan skala prioritas pastoral. Di rentang usia pernikahan mana yang cenderung bermasalah, di situlah prioritas ditentukan dengan pendekatan-pendekatan berdasarkan nilai-nilai Amoris Laetitia.

Tentu saja, seraya didukung ilmu-ilmu profan yang relevan seperti psikologi keluarga. 

Grafik 1: Profil Keluarga Paroki St. Paulus Depok Berdasarkan Usia Perkawinan

EP: Lanjutttt…khusus data berdasarkan agama pasangan. Bagaimana Amoris Laetitia menyentuhnya?

LB: Tak sekadar menyentuh. Menghadapi keluarga-keluarga dalam perkawinan beda gereja (mixta religio) dan beda agama (disparitas cultus), Paus Fransiskus merangkul erat mereka (Amoris Laetitia art. 247, 248).

Nah, dihadapkan pada data agama pasangan (Grafik 2) khususnya bagi sesama keluarga kita berkondisi mixta religio dan disparitas cultus yang mencapai 10% itu, Paus Fransiskus… “mendesak perlunya segera menyediakan reksa pastoral yang berbeda menurut berbagai konteks sosial dan budaya.”

Masih banyak lagi, dan lagi…Eja perlu baca.

Grafik 2: Profil Keluarga Paroki St. Paulus Depok Berdasarkan Agama Pasangan

EP: Wuah, Amoris Laetitia mata air inspirasi bagi keluarga. Jadi ingin dalami dokumennya…

LB: Ya Eja.  Bahkan Amoris Laetitia dapat menjadi salah satu fondasi inisiatif pastoral terkini bagi banyak “bahtera oleng” di masa pandemi.

Mengutip ajakan Paus, “Banyak keluarga perlu dibantu untuk menemukan dalam penderitaan hidup tempat kehadiran Kristus dan belas kasih-Nya.

Maka tahun ini adalah kesempatan untuk menjangkau keluarga, untuk tidak membuat mereka merasa sendirian dalam menghadapi kesulitan, berjalan bersama mereka, mendengarkan mereka dan melakukan inisiatif pastoral yang membantu mereka memupuk cinta sehari-hari.”

O ya, Eja. Tahun Keluarga Amoris Laetitia akan berlangsung rentang 15 bulan, berakhir pada 26 Juni 2022 dalam Pertemuan Keluarga Sedunia di Vatikan.

Selamat menyelami relung-relung terdalam Tri Hari Suci dengan “Suka Cita Kasih”. (Wisanggeni Napitupulu – Paulus Network)

Serap tumpukan inspirasi dari referensi utama tulisan ini:http://www.laityfamilylife.va/content/laityfamilylife/en/amoris-laetitia.html 

Tambah koleksi dokumen kepausan Anda tentang “Amoris Laetitia” (Dokpen KWI)https://paulusnetwork.com/download/seri-dokumen-gerejawi-no-100-amoris-laetitia-2/

Sebaiknya Anda tahu: Surat Gembala Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM – Tahun Pastoral 2021: https://paulusnetwork.com/download/tahun-pastoral-2021-tahun-evangelisasi-transformatif/

Baca selanjutnya:  AMORIS LAETITIA & SALIB SUAMI-ISTRI

Serial Pastoral Berbasis Data bersama Eja Puris & Lae Bang (2)

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 1 =