Renungan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Ekaristi Sebagai Perjamuan Keselamatan

BcE: Kej.14:18-20/Mzm. 110:1.2.3.4/1Kor.11:23-26/Luk.9:11b-17.

Makan merupakan kebutuhan dasar manusia karena melalui makanan manusia mendapatkan nutrisi untuk keberlangsungan hidupnya. Dan dalam banyak tradisi dan kebudayaan, makan bersama kerapkali dilakukan sebagai ungkapan rasa kekeluargaan dan persaudaraan. Pengalaman awal makan bersama kiranya terjadi dalam keluarga kita masing-masing. Keluarga-keluarga pada umumnya mengadakan makan bersama di rumah. Dalam pengalaman di keluarga saya, makan bersama kami pada umumnya berlangsung seperti ini: kami duduk mengelilingi meja makan, lalu bapak memimpin doa, setelah itu biasanya ibu yang selalu membagikan makanan dimulai dari bapak, abang, kakak dan anak bungsu. Sembari menyantap makanan, biasanya orang tua memberi nasihat kepada kami. Dan yang menarik adalah doa setelah makanan biasaya bergiliran.

Pengalaman makan bersama juga terjadi dalam ruang lingkup yang lebih luas: dalam komunitas, bersama para sahabat, dan berbagai kesempatan lainnya. Disebut makan bersama karena ada makanan yang dihidangkan dan terjadi dalam kebersamaan. Dan di dalam kebersamaan itu, biasanya sambil menyantap makanan orang-orang saling membagi rasa sukacita, relasi dibangun, saling berbagi pengalaman dan akhirnya setiap orang merasakan suasana kekeluargaan. 

                Makan bersama yang dilakukan baik dalam lingkup keluarga, komunitas atau dengan para sahabat tentunya memiliki intensi-intensi seperti ucapan syukur atas karya-karya Tuhan yang telah terjadi dalam hidup. Makan bersama juga mengingatkan kita bahwa karya Tuhan itu sekarang nyata-aktual dalam wujud hidangan makanan yang terhidang di hadapan kita. Dengan menyantap makanan dan mengalami kebersamaan, kita mendapat energi baru untuk melanjutkan keseharian kita. Perjamaun makan tidak selesai di meja makan tetapi mengalir ke dalam kehidupan dan perjumpaan dengan sesama.

Perayaan Ekaristi yang kita rayakan juga memuat hal yang sama yakni kita memakan Tubuh dan Darah Kristus. Dan perlu kita ketahui bahwa Ekaristi yang kita warisi sampai saat ini merupakan warisan mengalir dari ritual perjamuan makan Paskah Yahudi dan Perjamuan Akhir Yesus dan para murid-Nya sebelum Ia wafat. Dari perjamuan Paskah Yahudi dan Perjamuan Akhir Yesus, mengingatkan kita akan dua unsur yakni makanan (roti) dan minuman (anggur). Meskipun memiliki kesamaan unsur namun intensi pada Perjamuan Paskah Yahudi dan Perjamuan Akhir yang dilakukan oleh Yesus memiliki perbedaan yang mendasar. Perbedaan itu yakni, jika perjamuan Yahudi memiliki intensi mengingatkan mereka akan karya keselamatan yang dilakukan Allah kepada bangsa Israel, ketika mereka keluar dari tanah perbudakan Mesir. Sementara Perjamuan Akhir yang dilakukan Yesus bersama dengan murid-murid-Nya memiliki intensi bahwa Tubuh dan Darah yang diminum oleh para murid merupakan Tubuh dan Darah-Nya sendiri yang akan membawa keselamatan atau kehidupan kekal bagi siapa saja yang menyantap-Nya. Karena memiliki intensi untuk keselamatan atau kehidupan kekak maka Yesus sendiri mewariskan agar hal yang sama dilakukan oleh para murid dan kepada Gereja-Nya: “Inilah Tubuh-Ku…terimalah dan makanlah, inilah Darah-Ku, terimalah dan minumlah…Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”. Karena itu, Perjamuan Akhir yang dilakukan oleh Yesus bukan hanya sebatas kenangan, tetapi juga Yesus sungguh-sungguh hadir (hic et nunc: di sini dan sekarang). Warisan iman ini tetap dijaga dan dilakukan oleh Gereja Katolik.

Sebagaimana di awal saya mengatakan bahwa makan bersama merupakan ungkapan syukur, maka Ekaristi juga berasal dari kata kerja eucharistein yang berarti: memuji, mengucap syukur. Istilah ini merujuk pada teks Mat. 26: 27 ”sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur; dan teks Luk. 22:19 “lalu Ia mengambil roti dan mengucap syukur”. Dan karena itu, perayaan Ekaristi yang dilakukan oleh Gereja memberikan pesan yang jelas bahwa kita bersyukur karena melalui Tubuh dan Darah Kristus yang kita sambut adalah makanan rohani yang membawa kita kepada persatuan dengan Kristus. Jika makanan sehari-hari membuat kita sehat dan kuat, maka Ekaristi yang kita sambut membawa kita kepada kehidupan kekal bersama Allah. Karena itu, setiap kali kita menyambut Tubuh dan Darah Kristus kita diajak untuk menjadi pribadi yang Ekaristis, yakni pribadi yang senantiasa bersyukur, pribadi yang senantiasa mewujudkan persatuan dan persaudaraan, dan menjadi pribadi yang menaruh hormat kepada Tubuh dan Darah Kristus.

Diakon Santono Situmorang, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − 2 =