Renungan Minggu Adven I

Berjaga-jagalah

Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan dengan penyambutan kedatangan Pak Riziek. Lautan manusia memenuhi terminal 3 Bandara Soetta. Akses menuju dan dari bandara juga terhenti karena kepadatan kendaraan maupun karena orang memarkirkan kendaraan di sana. Bahkan beberapa fasilitas bandara rusak akibat dari kerumunan masa yang begitu besar. Setelahnya pun masih ada kegiatan-kegiatan yang menyebabkan kerumunan besar. Itulah euforia para pendukung Pak Riziek.

Sekarang, disinyalir bahwa kasus positif Corona meningkat di tempat-tempat terjadi kerumuman besar tersebut. Ya, tentu saja ini sangat mungkin terjadi. Di tengah kegembiraan dalam kerumunan besar, orang menjadi tidak waspada, tidak berjaga-jaga dengan penerapan protocol kesehatan yang benar.

Hari ini, kita memulai masa adven. Masa adven adalah masa penantian, masa menunggu. Apa atau siapa yang ditunggu? Kita menunggu kedatangan Tuhan. Kita tahu bahwa ada empat minggu adven. Kita tahu pula bahwa setelah empat minggu itu kita akan merayakan kelahiran Yesus di Betlehem. Kita tahu banyak hal. Akan tetapi, kita tidak tahu kapan Tuhan datang kepada kita dan bertanya “apa yang sudah kau buat dengan kehidupanmu?”.

Pada umumnya, orang yang menunggu akan diliputi perasaan gembira, penasaran tapi juga kadang-kadang terselip kecemasan. Misalnya kita sedang menunggu seseorang di bandara atau di stasiun kereta atau di terminal bis atau di sebuah café. Kita gembira dan penasaran lebih-lebih kalau lama sudah tidak jumpa. Atau kita cemas kalau tidak ada kepastian kapan yang ditunggu tiba. Belum lagi rasa bosan karena yang ditunggu tak kunjung tiba. Rasa gembira yang berlebihan, rasa penasaran, kecemasan mau pun kebosanan bisa membuat kita kurang awas dalam menunggu. Akibatnya bisa saja yang ditunggu sudah tiba tetapi kita tidak menyadarinya.

Sudah cukup lama kita menunggu untuk bisa merayakan ekaristi secara offline. Puji Tuhan bahwa pada akhirnya dimungkinkan bagi kita untuk merayakan ekaristi secara offline, menerima Tubuh Kristus secara nyata. Kita bergembira, kita bersyukur, kita bergembira. Tentu saja ada perbedaan yang cukup besar situasi sebelum pandemi dan sekarang. Jumlah umat dibatasi, sebelum masuk gereja semua orang menjalani protokol kesehatan yang cukup ketat, selesai misa tidak ada lagi acara berkumpul-kumpul, dll.

Di tengah sukacita dan kegembiraan kita bisa menyambut Tubuh Kristus secara langsung, bacaan di minggu pertama Adven ini mengingatkan kita supaya kita tetap berjaga-jaga. Jangan sampai sukacita dan kegembiraan kita ini mengendorkan kewaspadaan kita dalam menerapkan protokol kesehehatan. Berjaga-jagalah, salam tangguh selalu dan Tuhan memberkati.

 

RP. Oki Dwihatmanto, OFM

 

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × one =