Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan

Di sembuhkan oleh luka-luka-Nya

Hari ini, kita mendengar Kisah Sengsara Tuhan. Kita tidak perlu menelusuri kembali dengan sangat terperinci peristiwa-peristiwa yang ada di sana. Tetapi kita dapat merefleksikan bagaimana Kristus tidak asing dengan kesulitan, kekurangan dan penderitaan, juga jauh sebelum hari terakhir hidupnya. Seperti yang dikatakan Santo Paulus, Ia yang serupa dengan Allah tetapi menghampakan diri dan menjadi serupa dengan hamba. Dia, Allah Yang Maha Tinggi, hidup dalam kesusahan orang miskin, kadang-kadang bahkan tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Dia mengalami kelaparan dan kehausan, dan setelah hari-hari yang panjang dikelilingi oleh kerumunan yang mencari kesembuhan, Dia sering menghabiskan sepanjang malam untuk berdoa. Atas segala kebaikkan dan belaskasih-Nya, Dia berhadapan dengan kebencian dan penolakan, khususnya dari orang-orang Farisi dan para imam, yang berencana untuk membunuhnya. Kisah Sengsara Tuhan yang kita dengar hari ini, merupakan puncak dari segala penderitaan yang dialami-Nya.

Sekarang ini pun, banyak orang yang mengalami penderitaan. Wabah COVID-19 telah menyebabkan banyak korban. Banyak orang di dunia ini yang meninggal karenanya. Dan, lebih banyak lagi yang mengalami kecemasan. Cemas karena takut terjangkiti, cemas karena tidak bisa bekerja, cemas karena tidak ada pendapatan, cemas karena tidak ada yang bisa dimakan, dll. Mungkin kita adalah salah satu korban dari wabah ini. Kita juga mengalami kecemasan dan ketakutan. Perayaan Minggu Palma ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menyatukan segala penderitaan dan kecemasan kita dengan penderitaan Kristus. Yesus mengalami penderitaan karena Ia mengasihi kita. Dengan menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus, kita akan semakin mengalami kasih-Nya.

Walau berada di tengah kecemasan, kita sebagai pengikut Kristus masih memiliki tugas perutusan. Nabi Yesaya mengatakan, “Tuhan Allah telah menganugerahkan kepadaku lidah yang fasih supaya aku tahu menghibur orang yang letih lesu”. Kalau kita semua berada dalam situasi yang sama yaitu kecemasan akan wabah COVID-19, maka kita pun perlu saling menghibur, saling mendukung, saling membantu, saling mendoakan satu dengan yang lain. Semoga kita semua disembuhkan oleh luka-luka-Nya dan kemudian kita pun bisa saling meneguhkan satu dengan yang lain. Amin

 

RP. Oki Dwihatmanto, OFM

Berita dan Artikel Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 2 =