Renungan Minggu Biasa Sekaligus Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, XXXIV

HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS
RAJA SEMESTA ALAM

Luk 23: 35-43

Bila seluruh tahun liturgi Gereja Katolik itu merayakan seluruh sejarah keselamatan di mana Yesus Kristus menjadi tokoh pusatnya, maka masuk akallah bahwa pada hari Minggu terakhir yang menutup seluruh tahun liturgi itu, Gereja merayakan Yesus sebagai Raja Semesta Alam.

Tetapi Injil yang merupakan Kabar Gembira yang mewartakan siapakah Yesus Krstus itu, mengaitkan Yesus sebagai raja, dalam proses sengsara-Nya. Dalam pengadilan Sanhedrin sendiri para Imam Bait Allah mendengar dari mulut sendiri bahwa Dia adalah Mesias. Di hadapan Pilatus, ketika Pilatus bertanya “Raja orang Yahudikah Engkau?”(Luk 23:3) Yesus menjawab “Engkau sendiri yang mengatakannya” Dalam Injil Yohanes (Yoh 18:36) masih ditambahkan-Nya “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini”. Dengan demikian Yesus mengakui bahwa Dirinya adalah Raja. Alasan hukuman salib yang dituliskan oleh Pilatus dikatakan: “Yesus orang Nasaret Raja orang Yahudi” Dalam Injil yang kita dengar pada hari Raya Kristus Raja sekarang ini, Yesus sebagai Raja ini diungkapkan secara tersirat justru pada puncak sengsar-Nya di salib, beberapa saat sebelum wafat-Nya. Penjahat yang disalibkan di sebelah kanan-Nya itu berkata: “Yesus, ingatlah akan daku, bila engkau datang sebagai raja”. Apa kata Yesus? “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:42-43) Perhatikan perkataan penjahat ini: “kalau engkau datang sebagai raja, ingat saya” Apa kata Yesus? “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama dengan Aku di Firdaus”. “Hari ini”, jadi Yesus waktu berbicara itu, di kayu salib pada titik akhir hdiup-Nya, adalah Raja, Sudah menjadi Raja. Karena sudah mengabulkan permintaan si penjahat tadi. Ragu-ragu? Memang bisa demikian. Si penjahat itu pun pasti ragu. Karena itu Yesus berkata “sesungguhnya” hari ini juga ….

Saudara saudari yang terkasih, aneh memang. Yesus sebagai raja, tidak dikaitkan dengan kemuliaan dan kemegahan duniawi, tetapi justru sebaliknya: dengan cacian, ejekan, cemoohan, orang banyak dan para imam Bait Allah dipimpin oleh imam agung sendiri. Tidak hanya itu, Yesus sebagai raja dikaitkan erat dengan siksaan, cambukan, mahkota duri (ejekan dari pihak serdadu Roma!), memanggul salib, tiga kali jatuh terkapar, penyaliban, dan mati di kayu salib. Tetapi pada hari ke tiga, Yesus mengalahkan kematian, anak sulung dosa, dan bangkit hidup kembali dengan mulia. Kemenangan Yesus Kristus atas maut ini seolah-olah memahkotai Dia sebagai raja. Lalu apa maknanya bagi kita? Ingat perkataan “Firdaus” dalam jawaban Yesus tadi. “Lokasi” kerajaan-Nya ada dalam Firdaus. Apa artinya? Kembali ke hari-hari pertama penciptaan manusia: manusia yang masih 100 % cinta dan citra Allah, tinggal di sana. Di sinilah terminal akhir seluruh sejarah keselamatan: kembali kepada asalmuasal manusia: hidup mulia bersama dengan Allah secara sempurna, seperti Adam dan Hawa. Dengan demikian seluruh tahun liturgi Gereja Katolik itu merayakan perjalanan hidup kita masing-masing dan bersama-sama sebagai Gereja, sebagai Persekutuan Para Kudus, menuju ke tempat tujuan terakhir: Firdaus. Dalam Firdaus inilah Yesus “bertakhta” sebagai Raja. Dalam Firdaus inilah seluruh kehendak Allah terjadi. Ke sinilah kita semua dibawa dan dibimbing oleh Yesus dan Roh Kudus, diserahkan kepada Bapa di Surga.

Semoga kita pun layak memperoleh sapaan dari Tuhan Yesus yang diucapkaan-Nya kepada penjahat yang bertobat itu: “Sesungguhnya, pada hari ini juga engkau akan bersama-Ku di Firdaus”. Inilah yang kita rayakan hari ini: “Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam”

Selamat Pesta.

RP. Alfons S. Suhardi,OFM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita dan Artikel Lainnya