Setiap Ranting yang Kering dan Tidak Berbuah Harus Dipotong dan Dibuang

“Setiap ranting yang kering dan tidak berbuah harus dipotong dan dibuang”

(Homili Paskah Pekan V)

Dalam Perayaan Ekaristi minggu panggilan yang lalu kita membaca Injil Yohanes 10:11-18, tentang gembala yang baik. Yesus bersabda, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; Sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu, lalu lari.” Adalah seorang gembala yang suka sekali membuat suasana hidup dengan lelucon-leluconnya yang segar, meski terkadang lelucon yang dibuatnya bisa membuat gembala yang lain jengkel dan marah.

Suatu ketika gembala itu, katakanlah namanya Budi, berteriak-teriak minta tolong sambil membunyikan kentongan, “Toloooong….tolong….tong…tong…tong…, ada serigala datang menyerang domba-dombaku”. Suaranya cukup keras terdengar oleh gembala-gembala yang lain… Adik Budi, Kakak Budi, Ibu Budi, dan teman-teman Budi, berdatangan hendak menolong Budi. Mereka datang dengan membawa tongkat, parang, dan peralatan yang lain untuk membunuh serigala itu. Namun apa yang terjadi, ternyata setelah mereka bertemu Budi, Si Budi ketawa terbahak-bahak karena merasa berhasil menipu banyak orang karena Budi hanya bersandiwara seolah2 memang ada serigala yang datang menyerang kawanan domba gembalaannya. Beberapa bulan setelah peristiwa itu, ketika Si Budi sedang menggembalakan domba-dombanya. Sekelompok serigala datang menyerang kawanan domba gembalaannya.

Ia berusaha mengusir dan melawan serigala-serigala itu, tetapi tidak berhasil, maka ia berteriak-teriak minta tolong, “Toloooong….tolong….tong…tong…tong…, ada serigala datang menyerang domba-dombaku”. Meski banyak orang yang mendengar teriakannya, namun tidak ada satupun yang datang untuk menolong Budi, karena mereka berpikir kalau si Budi hanya bersandiwara saja, seperti yang sudah-sudah.  Para Saudara kita seringkali menjadi seperti orang-orang yang mendengar teriakan si Budi, namun tidak mau datang menolong karena kita berpikir bahwa dia/mereka berubah.

Dalam Bacaan pertama minggu Paskah V ini kita membaca dari Kis 9:26-32, tentang kisah pertobatan Saulus. Setelah bertemu dengan Yesus dan disembuhkan dari kebutaannya, lalu dibaptis dalam nama Yesus, Saulus pergi ke Yerusalem. Di sana ia mencoba menggabungkan diri dengan murid-murid Yesus, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka itak dapat percaya bahwa Saulus telah bertobat, dibaptis dan kini menjadi murid Yesus. Teman-teman yang terkasih, betapa sering kita juga bertinggah laku seperti murid-murid Yesus yang sulit mempercayai pertobatan seseorang. Kita lebih mudah membuat label-label/stigma/atau cap-cap mengenai orang lain.

Betapa sering kita mengatakan, “Berdasarkan pengalaman saya selama hidup bersama dengan dia, dia itu memiliki track record yang buruk: Suka berbohong, suka menipu, suka meminjam barang/uang orang lain tapi tidak mau mengembalikan, dan masih banyak lagi penilaian-penilaian negatif kita terhadap orang lain. Kita sering menjadi marah dan kecewa terhadap orang lain, padahal dia/mereka baru dua atau tiga kali melakukan tindakan kesalahan kepada kita. Apabila memang demikian adanya marilah kita mengingat pertanyaan rasul Petrus kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengapuni sesamaku, sampai tujuh kalikah?” Kita semua tahu apa jawaban Yesus atas pertanyaan ini. Seringkali kita yang terjadi malah sebaliknya, bukannya kita mau mengampuni malah kita suka membuat stigma-stigma negatif mengenai orang tertentu…, “Dasar pembohong dan penipu, pantesan aja rambutmu kriting, pasti hatimu juga kriting!” Sekarang bagaimana kalau pernyataan ini kita kenakan pada diri kita sendiri, tentu terasa sakit…., kita sudah berusaha untuk berubah, bertobat, namun tetap saja tidak dipercaya dan selalu diungkit-ungkit kesalahan kita itu, tentu akan terasa sakiiiiittt……, “sakitnya tuch di sini, di dalam hatiku…..” demikian lah kata Citacitata.

Dalam bacaan Injil Yohanes (Yoh 15:1-8) yang hari ini kita dengar, Yesus bersabda mengenai pokok anggur yang benar. Bagi mereka yang tahu tentang dunia tanam menanan (bercocok tanam), memang benar apa yang disabdakan Yesus: supaya anggur bisa berbuah banyak, kita harus membersihkan ranting-rantingnya; ranting-ranting yang kering dan tidak berbuah harus dipotong dan dibersihkan. Tentu kita pun juga diminta oleh Tuhan Yesus untuk berbuah dan bukan sekadar berbuah tetapi berbuah lebat. Untuk bisa menghasilkan buah yang melimpah kita harus membersihkan diri kita dari segala hal yang dapat menghambat perkembangan buah tersebut; kita harus memotong ranting-ranting yang kering, yaitu perbuatan-perbuatan daging. Apa saja kah itu? Gal 5:9-21 tertulis, “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan lain sebagainya.

Novisiat Transitus Depok, 27 April 2018

Sdr. Yustinus Damai Wasono OFM

Berita dan Artikel Lainnya