Minggu Kerahiman Ilahi – Minggu Paskah II – April 2018

Hari Minggu Paskah II dinobatkan oleh Gereja sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Karena Gereja menyadari bahwa tak terbayangkan dan tak terpikirkanlah kehidupan umat beriman kristiani tanpa kerahiman ilahi ini. Allah karena belas kasih dan kerahiman-Nya mengutus Yesus Kristus Putera Tunggal-Nya ke dunia ini agar manusia yang berkubang dan berlumuran dosa dipantaskan dan dimungkinkan untuk bersatu dan diterima kembali sebagai sahabat dan anak-Nya. Allah karena kerahiman dan belaskasih-Nya membebaskan manusia dari dosa dan kejahatan dan melaluinya manusia dimungkinkan untuk memperoleh keselamatan.

Karena itulah bacaan pertama hari Minggu Paskah II ini mengaplikasikan kerahiman dan belaskasihan Allah itu dalam kehidupan yang aktual dan nyata. Para rasul hendaknya sehati dan sejiwa. Hal ini penting agar persekutuan itu berkualitas dan memungkinkan mereka untuk melaksanakan tugas perutusannya dengan baik dan sukses. Hal lain juga yang digambarkan dalam bacaan pertama itu adalah harta milik. Semua harta milik dilihat sebagai milik bersama. Tidak ada pengklaiman terhadap harta milik sebagai milik perorangan, milik si A atau si B dst. Harta milik ini dikelola dengan baik agar menopang dan menjamin kehidupan bersama tetapi juga dapat dipergunakan untuk menolong sesama yang membutuhkanya. Akhirnya para rasul hendaknya hidup dalam kasih karunia. Dan model dari kasih karunia yang mereka bangun adalah kerahiman Allah sendiri yang terejawantahkan dalam pribadi Yesus Kristus. Yesus dengan lemah lembut dan penuh empati mendekati orang-orang yang berdosa. Keutamaan-keutamaan itulah yang memungkinkan mengapa cara hidup jemaat pertama itu selalu menjadi acuan dan model untuk membangun komunitas, persekutuan, kebersamaan atau paguyuban yang berkualitas dan bermartabat.

Saudari-saudari yang dikasihi dan mengasihi Tuhan

Melalui bacaan kedua kita dingatkan dua hal yaitu: mencintai Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Mencintai Allah dapat diukur ketika kita bisa mencintai sesama. Sebab dengan mencintai sesama yang kelihatan kita dapat mencintai Allah yang tidak kelihatan. Karena tidak mungkinlahkita bisa mencintai Allah yang tidak kelihatan apabila kita tidak mencintai sesama yang kelihatan?Allah ada di dalam diri sesama kita. Bukan hanya sesama yang menjadi sasaran dari kasih kita itu melainkan juga alam ciptaan Tuhan. Mengapa kita harus mencintai alam ciptaan Tuhan? Santo Bonaventura yang teolog itu memandang alam ciptaan sebagai jejak-jejak kaki Allah.Di dalam alam dan ciptaan-Nya kita dapat menemukan Allah sendiri.

Di samping mencintai Allah, aspek lain yang juga ditekankan dalam bacaan kedua adalah melakukan perintah-perintah Allah. Perintah Allah yang dimaksudkan di sini antara lain percaya kepada Yesus Kristus bahwa “Dia adalah Anak Allah yang datang ke dunia ini dengan air dan darah”. Ungkapan air dan darah mengingatkan kita akan air dan darah yang keluar dari lambung Yesus ketika ditikam oleh seorang prajurit di Kalvari. Dalam kata pengantar Minggu kerahiman Ilahi hari ini, air dan darah yang keluar dari lambung Yesus itu dimaknai sebagai “pembaptisan dan karunia Roh Kudus serta kurban salib dan Ekaristi dan sakramen-sakramen Gereja.

Kisah Injil menampilkan tentang Yesus yang menampakkan diri kepada para murid  tanpa kehadiran Thomas. Para murid yang takut, galau bahkan kehilangan harapan karena Guru yang paling mereka andalkan itu menderita, wafad secara tragis di Salib. Optimisme mereka sirnalah sudah. Mereka mengalami kegoncangan dan keterpurukan iman (krisis iman). Karena takut kepada para pemimpin Yahudi mereka mengurung diri di dalam rumah dengan pintu-pintu terkunci. Para murid takut jangan-jangan apa yang terjadi dengan Guru mereka akan menimpa diri mereka juga. Dalam kondisi yang menegangkan itu Yesus Kristus hadir di tengah-tengah mereka dan mengucapkan, “Damai sejahtera bagi kamu”. Lalu meyakinkan para murid akan kehadiran-Nya dengan memperlihatkan kepada mereka bekas-bekas perlakuan keji para prajurit Yahudi. Para murid mengalami kegembiraan karena Sang Guru yang telah bangkit mendatangi mereka. Optimisme para murid yang tadinya hilang kini bersemi kembali.

Kristus yang telah bangkit tetap mengandalkan para murid untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya. Karena itu Yesus menegaskan misi perutusan para murid dengan berkata, “sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”. Supaya tugas perutusan para murid dapat berhasil maka Yesus menghembusi para murid dengan Roh Kudus yang tidak lain adalah Roh Yesus Kristus yang telah bangkit. Para murid juga diberi kuasa oleh Yesus Kristus untuk mengampuni, menahan dan melepaskan dosa.

Para murid dengan gembira mengabarkan kepada Thomas tentang Yesus yang bangkit dan menampakkan Diri-Nya kepada mereka dengan berkata, “kami telah melihat Tuhan”. Sikap iman ini rupanya tidak dimiliki oleh Thomas sehingga ia menyangsikan berita yang disampaikan oleh teman-temannya. Karena kekurangpercayaan Thomas inilah Yesus Kristus delapan hari kemudian menampakkan Diri-Nya kepada Thomas. Thomas dipersilahkan oleh Yesus Kristus untuk menyaksikan bekas-bekas luka yang ada di tangan, kaki dan lambung Yesus Kristus seperti yang dia mau. Ketika Thomas menyaksikan semuanya itu ia akhirnya percaya dan mengumandangkan kredonya yang gemilang yaitu:”Ya Tuhanku dan Allahku”. Persis pada titik itulah tujuan kisah kebangkitan dan penampakkan Yesus kepada para murid yaitu:supaya mereka membuka hati dan percaya. Dan hal itu jugalah yang diharapkan dari kita para pengikut-Nya yaitu supaya berkat kisah kebangkitan dan penampakkan Yesus kita bisa membuka diri dan percaya kepada Yesus Kristus yang telah bangkit. Dengan demikian apa yang menjadi tujuan dicatatnya berita kebangkitan dan penampakkan Yesus Kristus tercapai, yaitu:”Supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya oleh imanmu kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya”.

Selamat berjuang, Tuhan memberkati.

Pastoran St Paulus 6 April 2018

Berita dan Artikel Lainnya