Kristus Telah Dibangkitkan dari Antara Orang Mati

KRISTUS TELAH DIBANGKITKAN DARI ANTARA ORANG MATI DAN TIDAK AKAN MATI LAGI (Rm 6:9)

 

Ada sebuah ungkapan dalam kitab suci orang Yahudi yang disebut TALMUT (salah satu kitab dalam kitab suci mereka) tentang SEPULUH BENDA PERKASA DI BUMI. Di sana dikatakan demikian:

Batu adalah perkasa tapi besi mampu menghacurkannya

Besi adalah perkasa tapi api mampu meluluhkannya

Api adalah perkasa tapi air mampu memadamkannya

Air adalah perkasa tapi awan mampu menggendongnya

Awan adalah perkasa tapi angin dapat meniupnya

Angin adalah perkasa tapi manusia mampu memanfaatkannya

Manusia adalah perkasa tapi segelas anggur mampu memabukkannya

Anggur adalah perkasa tapi tidur mampu melenyapkan pengaruhnya

Tidur adalah perkasa tapi kematian jauh lebih perkasa.

 

Saudara dan saudari sekalian yang terkasih!

Kematian itu memang perkasa. Tidak ada seorangpun yang mmpu menghindari kamatian walaupun minum vitamin sebanyak-banyaknya. Ketika kematian menjemput tidak ada yang bisa menghindar. Kematian menjadi sosok yang menakutkan. Orang takut pada kematian. Tapi apapun usahanya kematian pasti akan menjemput setiap kita. Kematian itu memang sungguh perkasa.

Tetapi malam ini, kisahnya menjadi lain. Bukan kematian yang paling perkasa. Kematian bukan sosok yang menakutkan. Kematian bukan akhir dari perjalanan hidup manusia.  Tetapi ada yang jauh lebih perkasa yaitu kehidupan.

Kematian tidak ada artinya bagi orang yang percaya pada Allah yang hidup. Karena Allah kita adalah Allah orang-orang hidup, bukan Allah orang mati.  Ini dibuktikan dalam diri Yesus Kristus yang oleh Santo Paulus dalam Roma 6:9 dikatakan, “telah dibangkitkan dari antara orang mati dan tidak akan mati lagi”.

Bila dirunut ke belakang, pesan kehidupan, pesan dan penegasan bahwa Allah kita adalah orang hidup sudah secara eksplisit dikatakan sejak kitab kejadian. Dikatakan bahwa segala ciptaan diciptakan dalam amat baik. Bahkan di akhir penciptaan alam semesta, Allah menciptakan manusia “menurut gambar dan rupa kita”. Bahkan ketika manusia jatuh dalam dosa, Allah memanggil Abraham untuk mengingatkan mereka lagi akan kodrat mereka sebagai gambar dan citra Allah. Ketika manusia berdosa terus menerus dan membuat Allah begitu marah dan ingin menghancurkan manusia dan seluruh isi alam Allah memanggil Nuh untuk merestorasi lagi apa yang telah sempat luluh lantak. Lagi dan lagi lewat hakim-hakim, raja-raja dan nabi-nabi Allah terus mengingatkan manusia akan kodratnya sebagai ciptaan Allah untuk melanjutkan menaburkan pesan kehidupan, pesan kebaikan dan pesan perdamaian yang ditegaskan oleh Yesus Kristus sendiri bukan hanya dengan kata-kata dan ajaran tetapi dengan hidup-Nya sendiri.

Ajaran dan kehidupan, sengsara dan wafat Yesus adalah sebuah cerita kehidupan dan yang menghidupkan. Kenangan akan Yesus adalah kenangan yang menghidupkan (living memory): sebuah kisah yang memotivasi, sebuah kisah yang mengispirasi, sebuah kisah yang membangkitkan karena Dia adalah Allah orang hidup. Kata-kata malaikat itu sangat jelas, “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya (Mt 28: 5b-6).

Pesan kebangkitan (baca: kehidupan) ini ditegaskan sendiri oleh Yesus kepada murid-murid-Nya untuk tidak takut mewartakannya, “Jangan takut! Pergilah dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Inilah inti iman kita dan inti pewartaan iman kita: Yesus yang bangkit, Yesus yang menghidupkan. Apa yang terjadi 2000 tahun yang lalu adalah sebuah “living memory” yang terus menghidupkan, mengispirasi dan membangkitkan jutaan orang-orang untuk tidak terlena dalam ‘budaya kematian’.

Saudara-saudariku yang terkasih! Dalam setahun terakhir ini banyak program yang kita lakukan di paroki kita: KEP, PRISKAT, WISE WOMAN, ME, SKK, dan lain-lain bahkan pembangunan fisik: canopy, gedung pastoral, serta program yang langsung menyentuh manusianya: AYO SEKOLAH dan AMAL KASIH yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Tapi sekali lagi saya ingin tegaskan, “Jangan takut!” sebab dengan cara ini kita sedang mewartakan Dia yang  hidup dan menghidupkan, kita sedang menempatkan manusia sebagai fokus pelayanan kita, manusia sebagai tanda kehadiran kehidupan yang paling nyata. Tentu saja untuk semua itu butuh pengobanan dari pihak kita.

Tiada mawar tanpa duri. Tiada mahkota tanpa pengorbanan. Tiada keberhasilan tanpa usaha. Tiada kebangkitan tanpa salib Tuhan kita Yesus Kristus. Selamat Pesta Paskah 2018.

Alforinus Gregorius Pontus OFM

Berita dan Artikel Lainnya