Iman akan Yesus yang Bangkit Proses dan Kesaksian Kita dalam Hidup Hehari-Hari

Iman akan Yesus yang Bangkit
Proses dan kesaksian kita dalam hidup sehari-hari

Kis 3:13-15.17-19; 1Yoh 2:1-5a; Luk 24:35-58.

 

Keyakinan dan pengalaman akan Yesus yang bangkit dan tetap menyertai mereka, membuat para Rasul merasakan menerima hidup dan semangat yang baru. Itulah yang mereka wartakan, “Tentang hal itu, kami adalah saksi” kata Petrus di hadapan orang banyak di Bait Allah.

Saudara-saudara terkasih,

Bacaan I: Kis 3:13 dan seterusnya mengungkapkan betapa Petrus dan kawan-kawan dengan mantab dan berani mewartakan keyakinan mereka akan Yesus yang sengsara, wafat di salib dan bangkit pada hari ke 3. Bahkan berani mempersalahkan orang Yahudi (pendengarnya) dan para pemimpinnya.

Suatu kesaksian iman yang hebat, yang sebelumnya sama sekali tidak mereka bayangkan. Sebelumnya, mereka semua tanpa kecuali gamang dan takut. Mengapa sekarang mereka sedemikian yakin dan berani, tanpa ragu-ragu memberikan kesaksian iman mereka?

Untuk mencapai tahap itu perlu waktu untuk mengendapkan dan mengolah apa yang telah mereka dapatkan dari Tuhan Yesus. Beberapa unsur dapat disebutkan di sini:

  • Pengalaman bersama akan kebangkitan Kristus
  • Bisa saling membicarakannya, karena ada yang ragu-ragu ada pula yang langsung percaya. Proses saling menguatkan.
  • Bukan menjadi bahan persaingan antara yang satu dengan yang lain: misalnya merasa yang paling dekat, mendapat keistimewaan karena ‘ditampaki’!
  • Perlu bantuan dari Sang Guru sendiri, selama 40 hari! Selama 40 hari Yesus beberapa kali menampakkan diri dan mengajarkan banyak hal. Misalnya dikatakan: “Membuka hati mereka terhadap Kitab Suci”
  • Dan akhirnya: Roh Kudus yang dicurahkan atas mereka (Hari Raya Pentakosta).

Kita lihat dalam Injil hari ini (Luk 24:35-48): penuh ketakutan dan keragu-raguan besar.

  • Yesus sdh menampakkan diri beberapa kali: Dua orang Emaus, kepada Petrus, yang pertama kepada wanita2 yang mau mengurapi jenazah-Nya.
  • Waktu mereka sedang hangat-hangatnya membicarakan hal itu, Yesus muncul di tengah-tengah mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dengan susah payah Yesus menginsyafkan mereka bahwa yang mereka lihat itu benar-benar Yesus: bukan hantu;
    • Ada kaki, ada tangan
    • Ada luka-luka
    • Rabalah! — belum jg percaya
    • Makan di depan mata mereka!
    • Pemenuhan Kitab Suci: nubuat-nubuat para nabi sudah terpenuhi;

Mereka lalu percaya? Kemungkinan besar: hanya sedikit; mereka masih takut, gamang. Tetapi Yesus langsung memberi tugas: “Kamu harus menjadi saksi dari semuanya itu”. Para Rasul pastilah kaget, tidak percaya bahwa diri mereka sungguh sudah diberi tugas berat itu. Tetapi Yesus pun mengingatkan supaya mereka tinggal di kota ini sampai dilengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi: turunnya Roh Kudus, 10 hari setelah Yesus naik ke surga. Para Rasul terbengong-bengong…

Mengapa dan bagaimana para Rasul kok sampai bisa menjadi berani tanpa gentar mewartakan kebangkitan Yesus Kristus?

Di atas sudah diterangkan bahwa itu semua membutuhkan suatu proses: kebersamaan dengan rasul yang lain, saling membicarakannya, tidak saling menonjolkan diri, dalam proses iman orang lain itu bukanlah saingan saya, tapi rekan seperjalanan, kemudian perlu bimbingan dari orang yang lebih tahu bahkan tentunya Tuhan sendiri. Karena itu perlu peka terhadap sapaan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Perlu mengenal Tuhan dengan lebih baik. Jalannya: rajin mengenal Alkitab, membaca Alkitab. Dan akhirnya: perlu bantuan Roh Kudus.

Karena itu saudara-saudaraku: Gereja memberikan berbagai sarana untuk perjalanan proses iman kita itu: mulai dengan katekese anak-anak ataupun katekumen, katekese dewasa (tidak hanya untuk calon tetapi juga untuk yang sudah dipermandikan), ada pertemuan bersama, pendalaman iman, pendalaman kitab suci, doa rosario dan lain-lain, dalam lingkungan/wilayah/paroki. Itu semua supaya iman kita menjadi berkembang dan menjadi semakin kuat dan mantab serta berani menjadi saksi iman dalam hidup sehari-hari.

Semoga kita, seperti para Rasul, berani menjalani proses perkembangan iman kita, sehingga kita pun kemudian bisa berani berkata: “Atas semuanya itu, sayalah saksinya”

Alfons S. Suhardi, OFM

 

Berita dan Artikel Lainnya